TRENGGALEK, bioztv.id – Keputusan Askab PSSI Trenggalek untuk tidak menggelar Turnamen Piala Presiden 2026 memicu protes keras dari pelaku sepak bola usia dini. Manajemen Sekolah Sepak Bola (SSB) Permata Kampak menilai alasan pembatalan kompetisi itu janggal, karena sejumlah kabupaten tetangga di Jawa Timur tetap menggelar turnamen kelompok umur tersebut.
Owner SSB Permata Kampak, Nanok Duwi Piyarko, menyampaikan langsung kekecewaannya. Ia mengaku telah meminta klarifikasi kepada jajaran pengurus Askab PSSI Trenggalek melalui grup WhatsApp resmi organisasi.
Untuk memperkuat argumennya, Nanok juga melampirkan surat edaran resmi Asprov PSSI Jawa Timur yang berisi mandat pelaksanaan Piala Presiden. Namun, pengurus Askab PSSI Trenggalek beralasan tidak dapat menggelar kompetisi karena Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asprov PSSI Jawa Timur menjadi satu-satunya pihak yang menandatangani surat tersebut.
“Ketua Askab berargumen bahwa surat itu hanya mendapat tanda tangan dari Plt Ketua Asprov. Menurut penilaian beliau, seorang Plt tidak memiliki kewenangan legal untuk menggulirkan kompetisi. Namun bagi kami, jawaban itu sangat tidak masuk akal,” kritik Nanok Duwi Piyarko.
Soroti Inkonsistensi Kebijakan
Nanok mempertanyakan konsistensi kebijakan Askab PSSI Trenggalek. Berdasarkan pantauannya, sejumlah Askab di Jawa Timur tetap menggelar Piala Presiden tanpa terpengaruh polemik kepengurusan di tubuh Asprov PSSI Jawa Timur.
Askab PSSI Tulungagung dan Askab PSSI Kediri, misalnya, tetap menjalankan turnamen kelompok usia tersebut.
“Kabupaten terdekat yang berbatasan dengan Trenggalek seperti Tulungagung dan Kediri saja sanggup melaksanakan Piala Presiden 2026. Padahal, kami di Permata Kampak sudah menyiapkan tim dengan sangat matang untuk menyongsong turnamen ini,” ujarnya.
Perbedaan kebijakan itu memunculkan tanda tanya di kalangan klub sepak bola Trenggalek mengenai alasan sebenarnya di balik keputusan Askab PSSI Trenggalek.
“Pertanyaan besar kami, sebenarnya ada apa dengan internal Askab PSSI Trenggalek? Kami sangat menyayangkan keputusan ini karena argumen pengurus belum bisa kami terima secara logis. Jika Askab daerah lain mampu menggelar turnamen, mengapa Trenggalek tidak bisa?” tegas Nanok.
Klub Kehilangan Ajang Mengasah Pemain Muda
Bagi manajemen SSB Permata Kampak, Piala Presiden menjadi ajang penting untuk menguji kemampuan pemain usia dini, meningkatkan jam terbang, sekaligus mematangkan kesiapan tim sebelum mengikuti kompetisi resmi PSSI.
Keputusan Askab PSSI Trenggalek untuk membatalkan turnamen tingkat kabupaten itu membuat para pemain muda kehilangan kesempatan merasakan atmosfer kompetisi yang kompetitif.
Askab PSSI Trenggalek Ungkap Alasan
Sebelumnya, Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menjelaskan alasan organisasinya tidak menggelar Piala Presiden 2026. Menurutnya, Askab sengaja mengambil langkah tersebut untuk menghindari risiko hukum dan persoalan administrasi karena polemik mengenai kewenangan Plt Ketua Asprov PSSI Jawa Timur masih belum selesai.
Selain persoalan legalitas kepengurusan Asprov, Puguh juga menyebut sebagian besar klub di Trenggalek belum mengaktifkan akun Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP), sehingga kondisi tersebut belum mendukung pelaksanaan turnamen.
Meski demikian, perbedaan kebijakan antara Trenggalek dan daerah tetangga terus memicu kritik dari klub-klub anggota. Para pelaku sepak bola usia dini kini mendesak Askab PSSI Trenggalek agar memberikan penjelasan yang lebih terbuka dan rinci supaya polemik ini tidak terus memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.(CIA)
Views: 20

















