Jamasan 15 Keris Tua Peninggalan Mataram Digelar di Trenggalek, Ada Yang Berusia 300 Tahunan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idAroma bunga dan minyak pusaka langsung memenuhi udara di Griya Joglo Mbah Kowor, Dusun Jayan, Desa Karangan, Kecamatan Karangan pada 10 Suro kemarin. Di tempat itu, para pelestari budaya membersihkan belasan keris tua satu per satu dengan penuh kehati-hatian melalui prosesi jamasan yang sarat makna filosofis.

Sebagian masyarakat masih mengaitkan jamasan keris dengan hal-hal mistis. Namun Kepala Desa Karangan, Tri Rohadi atau yang akrab disapa Mbah Lurah Kowor, memandang tradisi tersebut dari sudut yang berbeda. Ia menjadikan jamasan sebagai sarana merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah panjang dan nilai-nilai luhur warisan para leluhur.

Panitia mengumpulkan 15 bilah pusaka untuk mengikuti prosesi jamasan. Dalam kegiatan ini, Mbah Lurah Kowor menggandeng Paguyuban Pelestari Budaya Tosan Aji Panji Patrem Trenggalek. Sebagian besar pusaka yang mereka rawat merupakan keris tua tangguh era Kerajaan Mataram hingga Madiun yang diperkirakan berusia hampir 300 tahun.

“Kami menggelar prosesi ini untuk mengingat kembali jasa para leluhur, bahwa sebilah keris menyimpan filosofi yang sangat mendalam. Keris juga menjadi simbol peradaban tinggi yang bisa kita baca dari guratan pamornya,” ujar Tri Rohadi.

Mbah Lurah Kowor menilai setiap lekuk (luk), guratan pamor, hingga bentuk bilah keris menghadirkan pesan budaya yang kuat bagi lintas generasi. Karena itu, masyarakat tidak hanya merawat fisik pusaka, tetapi juga menjaga pengetahuan dan nilai moral yang terkandung di dalamnya.

Tri Rohadi menegaskan bahwa jamasan yang berlangsung di kediamannya bukan ritual pemujaan terhadap hal-hal supranatural. Sebaliknya, ia menghadirkan kegiatan tersebut sebagai ruang edukasi budaya sekaligus pengingat agar masyarakat Trenggalek tidak melupakan akar budayanya.

“Ini menjadi pengalaman pertama kami menyelenggarakan jamasan di sini. Alhamdulillah, warga menyambutnya dengan sangat baik. Teman-teman dari Panji Patrem juga banyak membantu sehingga seluruh rangkaian acara berjalan lancar,” tuturnya.

Keris Menyimpan Jejak Teknologi dan Peradaban Masa Lalu

Ketua Panji Patrem Trenggalek, Mamba Udin Syafi’i, menjelaskan bahwa masyarakat Jawa mewariskan tradisi jamasan secara turun-temurun sebagai bagian dari upaya konservasi benda budaya.

Menurut Mamba, jamasan tidak hanya membersihkan karat atau melindungi besi dari korosi. Tradisi ini juga menghadirkan ruang refleksi spiritual bagi para pemilik pusaka, terutama ketika masyarakat memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

“Hari ini seluruh rangkaian jamasan berjalan lancar. Selain membersihkan fisik pusaka, kami juga menggelar sarasehan budaya agar masyarakat dapat memahami sejarah dan filosofi keris secara lebih mendalam,” kata Mamba.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat tidak harus melaksanakan jamasan pada tanggal tertentu. Setiap wilayah dan keluarga biasanya memiliki tradisi masing-masing dalam menentukan waktu pelaksanaan.

“Ada yang melaksanakan pada malam 1 Suro, ada yang memilih tanggal 10 Suro seperti kami, bahkan ada yang melaksanakannya kapan saja selama bulan Suro. Yang terpenting adalah memahami makna yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Mamba menambahkan bahwa masyarakat Jawa memaknai bulan Suro sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas diri sebelum memasuki perjalanan hidup di tahun berikutnya.

Karena itu, masyarakat memaknai proses pembersihan keris sebagai simbol pembersihan hati dan pikiran dari berbagai hal negatif.

“Secara fisik, jamasan memperpanjang usia pusaka agar tidak rusak dimakan waktu. Secara batiniah, kegiatan ini mencerminkan upaya membersihkan diri sekaligus wujud rasa syukur atas warisan ilmu dari para leluhur,” ujarnya.

Gempur Stigma Mistis Lewat Sarasehan Budaya

Panji Patrem tidak hanya menggelar prosesi jamasan. Organisasi tersebut juga membuka ruang diskusi dan sarasehan budaya secara gratis bagi masyarakat umum.

Melalui langkah itu, Panji Patrem ingin mengenalkan keris sebagai mahakarya sejarah bangsa, bukan sekadar benda koleksi atau pusaka yang selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Mamba mengajak generasi muda untuk memahami bahwa keris merupakan produk budaya adiluhung yang lahir dari peradaban Nusantara. Para empu masa lalu memadukan unsur seni, teknologi metalurgi, dan filosofi hidup dalam setiap bilah keris yang mereka ciptakan.

“Keris dan pusaka lainnya menyimpan nilai sejarah yang sangat besar. Melalui ruang edukasi seperti ini, kami ingin mengupas kembali pesan-pesan bijak para leluhur sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk melestarikannya,” kata Mamba.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat memanfaatkan momentum jamasan untuk memanjatkan doa bersama dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui doa tersebut, mereka berharap seluruh warga Trenggalek memperoleh keselamatan, kedamaian, dan keberkahan hidup.

Rawat Pusaka Langka Berusia Tiga Abad

Dari belasan pusaka yang mengikuti jamasan, tim kurator menemukan beberapa keris istimewa peninggalan era Kerajaan Mataram Islam pada masa Pakubuwono Sepuh hingga Amangkurat II. Para ahli memperkirakan usia bilah-bilah keris tersebut telah mendekati tiga abad.

Meski keris-keris itu memiliki nilai sejarah dan ekonomi yang sangat tinggi, para pemiliknya memilih menjadikannya sebagai media edukasi dan pelestarian budaya, bukan sekadar aset investasi.

Melalui pagelaran budaya di Griya Joglo Mbah Kowor, para pelestari budaya mengajak masyarakat Karangan untuk menyadari bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya disimpan di dalam lemari. Generasi hari ini harus merawat, mempelajari, dan mewariskan kembali peninggalan tersebut kepada generasi berikutnya agar jejak kebesaran peradaban Nusantara tetap hidup di tengah perubahan zaman.(CIA)

Views: 6