TRENGGALEK, bioztv.id – Euforia pesta rakyat dengan dentuman sound horeg, konser musik, hingga hajatan ternyata menyimpan bahaya serius bagi kesehatan telinga. Dokter Spesialis THT, dr. Sabilarrusydi, mengingatkan bahwa ambang batas aman kebisingan untuk manusia hanyalah 85 desibel. Jika melebihi itu, suara bisa merusak saraf telinga dalam hitungan detik.
Menurutnya, angka ini bukan sekadar anjuran, tetapi sudah diatur dalam regulasi. Kebisingan hingga 85 desibel hanya aman untuk telinga manusia selama 8 jam. Begitu naik 3 desibel menjadi 88, durasinya berkurang separuh menjadi 4 jam.
“Kalau 91 desibel cuma boleh 2 jam, 94 desibel 1 jam, dan 97 desibel hanya setengah jam,” jelas dr. Sabilarrusy di saat di RSUD dr.Soedomo Trenggalek.
120 Desibel: Zona Bahaya, Hanya Aman 10 Detik
Yang mengkhawatirkan, lanjutnya, adalah kebisingan yang mencapai 120 desibel.
“Level itu sudah masuk zona bahaya atau danger area. Kita hanya boleh mendengarnya sekitar 10 detik. Lewat dari itu, saraf pendengaran pasti terdampak,” tegasnya.
Ia mencontohkan, jika sebuah acara hajatan atau konser musik memakai sound horeg dengan kekuatan 120 desibel, maka penonton hanya boleh berada di dekat sumber suara selama 10 detik.
“Kalau lebih, ya harus menjauh,” tambahnya.
Konser, Hajatan, dan Risiko yang Sama
Dr. Sabilarrusydi menegaskan, aturan batas kebisingan berlaku untuk semua jenis kegiatan, mulai dari konser musik, karnaval, hingga pesta pernikahan. Sayangnya, di banyak daerah, termasuk Trenggalek, kesadaran ini masih minim.
“Kita sering melihat hajatan yang memakai sound kencang tanpa diukur. Tamu mungkin hanya sebentar, tapi tetangga bisa mendengarkan nonstop selama berjam-jam,” ungkapnya.
Ia merekomendasikan penggunaan sound level meter untuk mengukur kebisingan secara objektif.
“Kalau bisa, atur jangan sampai melebihi 85 desibel. Itu pun sudah batas aman maksimal selama 8 jam,” katanya.
Meskipun dentuman musik bisa membangkitkan semangat pesta, dr. Sabilarrusydi mengingatkan bahwa kerusakan pendengaran sifatnya bisa permanen dan tidak bisa pulih.
“Lebih baik kita mengalah sedikit demi kesehatan telinga kita sendiri. Karena begitu rusak, tidak ada jaminan sembuh,” pungkasnya.(CIA)
Views: 34
















