BLITAR, bioztv.id – Ratusan petani dari empat kecamatan di Kabupaten Blitar menggelar aksi damai menolak aktivitas tambang pasir mekanik di aliran lahar Gunung Kelud, Kaliputih, Kecamatan Gandusari, Kamis (13/3/2025). Aksi ini dipicu oleh dampak negatif pertambangan galian C yang dinilai merusak lingkungan dan mengancam pasokan air bersih untuk kebutuhan konsumsi maupun pertanian.
Para petani, yang berasal dari 21 desa di Kecamatan Gandusari, Garum, Talun, dan Kanigoro, berkumpul di lokasi tambang pasir dengan membawa poster berisi tuntutan. Mereka menuntut penghentian operasi tambang pasir mekanik yang menggunakan alat berat dan mengusulkan agar penambangan dilakukan secara manual.
Harmuji, koordinator aksi, menjelaskan bahwa aktivitas tambang pasir mekanik telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius.
“Tambang pasir dengan alat berat ini merusak ekosistem sungai. Debit air berkurang, sedimen meningkat, dan zat-zat kimia dari pertambangan mencemari air. Ini sangat merugikan petani,” tegas Harmuji.
Ia menambahkan bahwa dampak tersebut telah dirasakan warga selama bertahun-tahun, namun tidak ada solusi dari pihak terkait.
“Kami meminta tambang pasir mekanik ini dihentikan mulai hari ini,” ujarnya.
Dukungan Polisi dan Respons Perusahaan
Aksi damai ini mendapat pengamanan ketat dari petugas Polres Blitar. Sementara itu, perwakilan dari CV Barokah Sembilan Empat (BSE), perusahaan yang mengelola tambang pasir di lokasi, juga hadir untuk berdialog dengan para petani.
Aditya Putra Mahardika, perwakilan CV BSE, mengaku telah menampung aspirasi warga. Pihak BSE sudah menghentikan manajemen lama yang dinilai menimbulkan banyak keluhan dari masyarakat.
“Saya baru satu minggu menjalankan tugas ini, langsung dihadapkan pada aksi ini,” kata Aditya.
Ia menegaskan bahwa perusahaan telah mengantongi izin resmi untuk melakukan penambangan galian C.
“Kami beroperasi secara legal. Jika tidak, kami tidak akan berani melakukan aktivitas ini,” ujarnya.
Namun, Aditya mengaku masih berkoordinasi dengan tim teknis dan legal perusahaan terkait tuntutan petani.
“Kami akan mengikuti hukum yang berlaku. Semua hambatan dan tantangan akan kami selesaikan sesuai aturan,” tambahnya.
Dampak Tambang Pasir Mekanik pada Petani
Para petani mengeluhkan bahwa aktivitas tambang pasir mekanik telah menyebabkan kekurangan air bersih. Sungai yang seharusnya menjadi sumber air untuk pertanian dan konsumsi kini tercemar.
“Kami kesulitan mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Harmuji
Selain itu, kerusakan lingkungan akibat penambangan juga mengancam keberlanjutan pertanian di wilayah tersebut.
“Jika tambang pasir terus beroperasi, lahan pertanian kami akan semakin rusak. Ini ancaman serius bagi masa depan kami,” tambahnya.
Tuntutan dan Harapan ke Depan
Para petani menuntut agar aktivitas tambang pasir mekanik dihentikan segera dan diganti dengan penambangan manual yang lebih ramah lingkungan. Mereka juga meminta pemerintah daerah turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini.
“Kami berharap pemerintah bisa mendengar suara kami. Jangan biarkan petani terus menderita karena aktivitas tambang yang merusak,” Tutup Harmuji.(CIA)
Views: 2
















