Kios Pasar Pon Trenggalek Banyak Yang Kosong Meski Retribusi Turun Hingga 75%

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Pasar Pon Trenggalek, yang dulu dikenal sebagai pusat perbelanjaan ramai, kini menghadapi tantangan serius. Sepinya pengunjung tak lepas dari maraknya tren jual beli online yang mengubah kebiasaan masyarakat. Berbagai inovasi dan strategi mulai digulirkan untuk mengembalikan keramaian pasar tradisional ini.

Kepala Dinas Komindag Trenggalek, Saniran, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya meramaikan Pasar Pon dengan berbagai aktivitas dan event menarik.

“Kami mendorong para pedagang melalui paguyuban untuk bersama-sama berjualan. Selain itu, kami juga menggelar event-event seperti lomba siswa dan Pasar Tumpah Ramadan yang akan digelar mulai 19 Maret hingga 7 April,” ujar Saniran.

Event besar seperti Pasar Tumpah Ramadan diharapkan bisa menjadi magnet bagi pengunjung. Terlabih, pasar tumpah ini akan melibatkan berbagai UMKM lokal dan pedagang.

“Ini adalah upaya kami untuk menciptakan ruang interaksi dan transaksi yang lebih hidup,” tambahnya.

Selain event, Saniran menyebutkan bahwa pihaknya juga memanfaatkan space-space kosong di Pasar Pon. Awalnya, ada 72 kios yang sempat tutup, namun beberapa sudah menunjukkan minat untuk kembali berjualan.

“Kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan ruang-ruang yang masih tersedia. Kami akan memfasilitasi mereka asalkan mereka sungguh-sungguh,” jelasnya.

Keringanan Retribusi dan Fasilitas Pendukung

Untuk meringankan beban pedagang, Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menurunkan tarif retribusi pasar. Tarif tersebut kini  sudah turun antara 60% hingga 75% dari harga awal.

“Misalnya, tarif kios yang sebelumnya Rp 12,5 juta per tahun, kini turun menjadi Rp 3,125 juta. Sementara untuk los, tarifnya turun menjadi Rp500 ribu hingga Rp720 ribu per tahun,” papar Saniran.

Meski tarif retribusi sudah diringankan, Saniran mengakui bahwa kondisi perekonomian nasional masih menjadi tantangan. Menurutnya, sebenarnya nominal tarif retribusi tidak berat, tapi kondisi ekonomi saat ini yang membuat pedagang kesulitan.

“Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama berusaha dan berdoa. Jangan hanya menunggu kesempatan, tapi ciptakan peluang,” tegasnya.

Tantangan Era Digital dan Solusi Kreatif

Sepinya Pasar Pon juga tak lepas dari dampak tren jual beli online. Saniran mengakui bahwa hal ini bukan hanya terjadi di Trenggalek, tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Pihaknya mengakui jika jual beli online berdampak besar terhadap pasar offline.

“Tapi kami tidak menyerah. Kami sudah melatih pedagang Pasar Pon untuk memanfaatkan digital marketing,” ujarnya.

Namun, Saniran menyadari bahwa banyak faktor yang memengaruhi kesiapan pedagang dalam menghadapi era digital. Diantaranya papasitas SDM, kualitas, dan kuantitas barang menjadi faktor penting.

“Tren mode di pasar online terus berkembang, jadi pedagang juga harus kreatif dan selalu update dengan produk-produk terbaru,” imbuhnya.

Pasar Pon sebagai Bagian dari Kota Kreatif

Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah merancang Pasar Pon sebagai bagian dari rencana Kabupaten Kota Kreatif.  Dengan kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat, Pasar Pon Trenggalek diharapkan tidak hanya menjadi simbol ekonomi lokal, tetapi juga kebanggaan masyarakat Trenggalek. Inovasi dan semangat bersama menjadi kunci untuk menghadapi tantangan era digital dan mengembalikan keramaian pasar tradisional ini.

“Inovasi di Pasar Pon sudah kami konsep dengan baik. Ini adalah upaya untuk menciptakan pasar yang tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tapi juga ruang interaksi sosial dan budaya,” kata Saniran.

Dengan berbagai upaya ini, Saniran optimis Pasar Pon Trenggalek bisa kembali ramai. Pemkab Trenggalek melalui Dinas Komidag berkomitmen untuk terus mendukung pedagang dan melengkapi fasilitas yang kurang.

“Mari bersama-sama membangun Pasar Pon menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial yang ramai dan berdaya saing,” tutupnya.(CIA)

Views: 10