Aliansi Rakyat Trenggalek dan Ansor Gaungkan Penolakan Tambang Emas, Bagikan 1.000 Bibit Buah

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Gelombang penolakan terhadap tambang emas di Trenggalek terus bergema. Aliansi Rakyat Trenggalek (ART), yang terdiri dari sekitar 20 organisasi, kembali bergerak untuk menyuarakan aspirasi mereka. Salah satu organisasi yang tergabung dalam ART adalah GP Ansor Trenggalek yang turut terjunkan banser di lapangan.

Aksi dari ART ini tidak sekadar orasi, tetapi langkah nyata dengan membagikan 1.000 bibit buah kepada masyarakat di dua desa yang berpotensi menjadi lokasi eksplorasi tambang emas. Ketua PC GP Ansor Trenggalek, Muhammad Izzudin Zaky, alias Gus Zaky menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan Kabupaten Trenggalek.

“Agenda kita adalah menebar kebaikan. Pertama, dengan membagikan bibit buah, dan kedua, memberikan edukasi bahwa tambang emas tidak cocok di Trenggalek,” ujarnya.

Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, dan Desa Pule, Kecamatan Pule, menjadi sasaran utama edukasi ART kali ini. Menurut Gus Zaky, informasi yang berkembang menunjukkan bahwa kedua desa tersebut masuk dalam area eksplorasi tambang emas. Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat harus diberikan pemahaman mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan jika aktivitas tambang emas benar-benar terjadi.

“Di Desa Sumberbening, kami disambut baik. Kepala desa ikut serta dalam kegiatan, dan masyarakatnya juga sangat antusias,” jelasnya.

Menurut Gus Zaky, masyarakat di Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko ini sudah cukup teredukasi mengenai bahaya tambang emas. Sementara itu, di Desa Pule, masyarakat relatif baru memahami isu ini.

“Tetapi mereka langsung menyatakan sepakat untuk menjaga alam, terutama Gunung Sumungklung, agar tidak diusik dari luar,” jelasnya.

Sebanyak 1.000 bibit tanaman buah seperti durian dan alpukat dibagikan dalam kegiatan tersebut. Selain untuk penghijauan, bibit ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga di masa mendatang. Pasukan Banser juga terlibat langsung dalam proses edukasi dan distribusi bibit buah buahan ini.

“Kita ingin menunjukkan bahwa ada ‘emas hijau’ yang nyata, berupa tanaman yang bisa kita nikmati hasilnya sekarang dan di masa depan,” tambahnya.

Gus Zaky  menegaskan bahwa ART maupun GP Ansor Trenggalek akan terus berupaya mengedukasi masyarakat di daerah lain yang berpotensi terkena dampak tambang emas. Selain itu, mereka juga akan mengawal agar Trenggalek tetap terbebas dari aktivitas tambang emas yang berisiko merusak lingkungan.

Diketahui, meskipun aktivitas pertambangan emas di Trenggalek belum dimulai, perusahaan tambang telah sudah mengantongi izin eksplorasi dari Kementerian ESDM sejak 2019 hingga 2029. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat, terutama terkait potensi kerusakan lingkungan yang bisa mengancam misi ambisius Pemkab Trenggalek dalam mencapai target Net Zero Carbon.

ART menilai jika aktivitas tambang emas tidak hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan kehidupan masyarakat yang selama ini mengandalkan alam sebagai sumber penghidupan.

“Oleh karena itu, kami akan terus mengawal agar Trenggalek tetap hijau dan terbebas dari tambang emas,” pungkas Gus Zaky.(CIA)

Views: 25