TRENGGALEK, bioztv.id – Memasuki minggu pertama Januari 2025, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Trenggalek tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek menyebutkan, sebanyak 15 kasus DBD telah dilaporkan hingga 6 Januari 2025, naik dari 12 kasus pada minggu pertama Januari 2024.
Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa lonjakan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.
“Kami mencatat pada tahun 2024 terdapat 1.071 kasus DBD di Kabupaten Trenggalek. Angka ini jauh meningkat dibandingkan tahun 2023 yang hanya 129 kasus. Peningkatan ini menunjukkan adanya siklus lima tahunan yang juga pernah terjadi pada tahun 2019,” ujar dr. Sunarto.
Puskesmas dengan Kasus Tertinggi
Kasus terbanyak pada tahun 2024 tercatat di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar dengan 79 kasus, disusul Puskesmas Karangan sebanyak 78 kasus, dan Puskesmas Pandean dengan 77 kasus. Sementara itu berdasarkan kelompok usia, kasus DBD tertinggi terjadi pada rentang usia 5-44 tahun, mencapai 77,76% dari total kasus. Namun, kasus pada anak-anak usia sekolah juga cukup tinggi, yakni sekitar 460 kasus.
“Ini menunjukkan pentingnya peran sekolah dan keluarga dalam mengedukasi anak-anak mengenai pencegahan DBD,” tambahnya.
Awal Tahun 2025 yang Mengkhawatirkan
Hingga awal Januari 2025, kasus DBD sudah mencapai 15 kasus, lebih tinggi dibandingkan awal tahun lalu. Namun, dr. Sunarto berharap tren ini tidak berlanjut seperti yang terjadi pada tahun 2024. Berbagai upaya pencegaran sudah dilakukan untuk menekan lonjakan kasus DBD di Trenggalek.
“Kami berharap angka kasus DBD di tahun 2025 ini tidak melonjak tajam seperti tahun lalu. Upaya pencegahan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN), 3M Plus, dan edukasi masyarakat harus terus digalakkan,” tegas dr. Sunarto.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, dan munculnya bintik merah di kulit.
“Deteksi dini dan penanganan yang cepat sangat penting untuk menghindari komplikasi serius,” jelas dr Sunarto.
Kewaspadaan Masyarakat dan Pemerintah
Dengan curah hujan yang masih tinggi, potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti juga meningkat. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan. Langkah bersama antara pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu menekan jumlah kasus DBD di Trenggalek, sehingga angka kejadian tidak mencapai puncak seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Pemerintah terus mengupayakan langkah-langkah pencegahan dengan menggencarkan fogging di daerah rawan, distribusi abate, dan kampanye kebersihan lingkungan. Namun, peran masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam memerangi DBD,” tutup dr. Sunarto.(CIA)
Views: 0
















