TRENGGALEK, bioztv.id – Sebanyak 77 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MA Global dan SMP Global, Kecamatan Karangan, Trenggalek, mendadak mengalami diare dan sakit perut. Satgas MBG Trenggalek kini menelusuri seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga makanan sampai ke siswa.
Keluhan kesehatan muncul setelah para penerima manfaat menyantap menu MBG pada Senin, 14 September 2026. Sekolah baru melaporkan kejadian tersebut pada Selasa pagi, sebelum para siswa menyantap menu MBG hari itu. SPPG tersebut diketahui dibawah naungan Yayasan Mulia Hiroku Gakkou
Dari 77 orang yang mengeluhkan sakit perut, sebanyak 34 orang berasal dari MA Global. Rinciannya, 27 siswa dan 7 guru.
Sebanyak 43 orang lainnya berasal dari SMP Global, terdiri atas 41 siswa dan 2 guru.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek sekaligus Asisten I Setda Trenggalek, Sunarto, mengatakan tim langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan tersebut.
“Tadi pagi kami menerima laporan dari penerima manfaat di SMP dan MA Global,” kata Sunarto.
Ia mengatakan mayoritas korban mengeluhkan gejala berupa diare dan sakit perut.
Satgas Periksa Lebih dari Seribu Penerima Manfaat
Untuk mencegah keluhan meluas, Satgas MBG mengerahkan koordinator wilayah, Dinas Kesehatan, dan petugas Puskesmas ke lokasi sekolah.
Tim tidak hanya menangani 77 orang yang mengeluhkan sakit. Petugas juga memeriksa kondisi kesehatan penerima manfaat lain yang mengonsumsi makanan dari penyedia yang sama.
Sunarto mengatakan tim kesehatan telah memeriksa lebih dari seribu penerima manfaat di wilayah Karangan.
“Berdasarkan penelusuran tim medis, keluhan kesehatan sementara ini terdeteksi hanya pada 77 orang tersebut,” terangnya.
Meski menemukan puluhan penerima manfaat mengalami keluhan, Satgas MBG belum memastikan menu MBG sebagai penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Tim masih menunggu hasil pemeriksaan karena para siswa mengonsumsi menu pada Senin, sedangkan menu MBG Selasa belum sempat mereka santap ketika laporan masuk.
“Kami menduga dugaan gangguan ini berasal dari proses konsumsi menu MBG kemarin,” ujar Sunarto.
Tim Audit Periksa Menu Ayam Bumbu Rendang
Pada Senin, siswa menyantap menu MBG yang terdiri atas ayam bumbu rendang tanpa santan, acar timun dan wortel, tempe goreng, serta buah melon.
Satgas kini memeriksa menu tersebut sebagai bagian dari investigasi untuk mencari kemungkinan sumber cemaran.
Tim juga akan mengaudit dapur SPPG Karangan yang dikelola Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar sisa makanan. Tim juga menelusuri seluruh rantai pasok dan proses pengolahan bahan pangan.
“Untuk menuntaskan kasus seperti ini, kami menerapkan prosedur mirip audit menyeluruh,” tegas Sunarto.
Tim investigasi memeriksa seluruh alur kerja, mulai dari bahan baku tiba di dapur SPPG, proses pengolahan, pengemasan, hingga petugas menyalurkan makanan kepada siswa.
Tim Kirim Sampel Makanan ke Laboratorium Surabaya
Untuk mencari penyebab secara ilmiah, tim medis mengambil sampel sisa makanan dan mengirimkannya ke laboratorium rujukan di Surabaya.
Pemeriksaan laboratorium akan membantu tim mendeteksi kemungkinan mikroba atau bakteri patogen yang memicu gangguan pencernaan.
“Petugas sudah mengambil sampel makanan dan langsung mengaturnya untuk dikirim ke laboratorium Surabaya yang memiliki fasilitas lengkap,” kata Sunarto.
Ia mengatakan laboratorium milik Pemkab Trenggalek masih memiliki keterbatasan dalam jumlah parameter pemeriksaan.
“Laboratorium milik Pemkab Trenggalek saat ini baru mampu mendeteksi patogen dasar seperti bakteri E. coli,” ungkapnya.
Karena itu, tim memilih laboratorium di Surabaya yang memiliki kemampuan pemeriksaan mikrobiologi lebih lengkap.
“Laboratorium Surabaya memiliki peralatan lengkap sehingga mampu menganalisis secara presisi dari mana sumber cemaran itu berasal,” paparnya.
SPPG Karangan Terancam Sanksi Suspend
Satgas MBG Trenggalek juga telah melaporkan insiden tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
Sunarto mengatakan SPPG yang terkait dengan insiden dugaan gangguan kesehatan tersebut berpotensi mendapat sanksi pembekuan operasional atau suspend.
Namun, BGN dan Satgas belum mengambil keputusan akhir. Mereka masih menunggu hasil laboratorium dan pemeriksaan lapangan untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BGN Pusat. Prosedurnya, SPPG yang mengalami insiden seperti ini sangat berisiko terkena suspend,” tegas Sunarto.
Satgas MBG kini harus memastikan sumber gangguan kesehatan tersebut sebelum pemerintah menentukan sanksi. Tim akan menilai apakah persoalan berkaitan dengan proses pengolahan makanan atau faktor lain di luar dapur SPPG.(CIA)
Views: 13
















