TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek membawa pemeriksaan TBC langsung ke desa-desa. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) menggabungkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan skrining TBC menggunakan unit rontgen portable.
Langkah ini sekaligus menjawab rendahnya penemuan kasus TBC di Trenggalek. Dinkes PPKB mencatat temuan kasus baru masih sekitar 40 persen dari target nasional.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran. Banyak penderita kemungkinan masih berada di tengah masyarakat tanpa diagnosis dan pengobatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, menyebut kondisi itu seperti fenomena gunung es.
“Dalam kasus penyakit menular, tim medis harus bergerak cepat menemukan penderita sebanyak-banyaknya,” ujar Andiek.
Menurutnya, kasus yang sudah ditemukan kemungkinan baru sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.
“Kami sangat mengkhawatirkan kondisi ini seperti fenomena gunung es,” tegasnya.
Rontgen Portable Sambangi Balai Desa Pogalan
Tim Dinkes PPKB menggelar penjaringan kasus TBC di Balai Desa Pogalan, Rabu (26/8/2026). Warga datang untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dasar sekaligus skrining TBC.
Petugas memeriksa tekanan darah, kadar gula darah untuk mendeteksi diabetes melitus, serta kondisi paru-paru menggunakan rontgen portable.
Integrasi kedua program itu membuat warga bisa memperoleh beberapa layanan kesehatan dalam satu kunjungan.
“Hari ini kami melancarkan kegiatan tracing penyakit TBC yang terintegrasi langsung dengan Cek Kesehatan Gratis,” terang Andiek.
Satirin (71), warga Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, menjadi salah satu warga yang mengikuti pemeriksaan.
Petugas menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, memeriksa tekanan darah, mengukur kadar gula darah, kemudian melakukan pemeriksaan paru-paru menggunakan rontgen.
“Petugas tadi mengukur tekanan darah saya di angka 120, berat badan 46 kilogram, dan tes gula darah 109,” tutur Satirin.
Menurut Satirin, layanan keliling tersebut sangat membantu warga lanjut usia. Mereka tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menjalani pemeriksaan.
“Kehadiran layanan gratis di desa ini sangat membantu warga,” akunya.
Warga Tanpa Gejala Tetap Jadi Sasaran
Dinkes PPKB tidak hanya memeriksa warga yang mengalami gejala TBC. Petugas juga menyasar masyarakat yang merasa sehat dan tidak menunjukkan keluhan.
Strategi tersebut penting karena penderita TBC tidak selalu langsung merasakan gejala pada tahap awal.
“Petugas tetap menguji dan memeriksa warga yang tidak mengeluhkan gejala apa pun,” jelas Andiek.
Petugas juga memprioritaskan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi. Mereka antara lain orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC aktif, penderita diabetes melitus, dan pasien HIV.
“Kami memprioritaskan kelompok rentan ini tanpa mengabaikan kelompok masyarakat lainnya,” tambah Andiek.
Ketika satu anggota keluarga terinfeksi TBC, petugas juga meminta seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah menjalani pemeriksaan.
Antusiasme Warga Melebihi Kapasitas Alat
Pelaksanaan skrining di Desa Pogalan menunjukkan minat masyarakat cukup tinggi. Panitia awalnya mengundang sekitar 100 warga.
Namun, jumlah pendaftar di lokasi mencapai 120 orang.
“Kapasitas kerja alat ini memiliki batas maksimal harian,” kata Andiek.
Dinkes PPKB menyiapkan pemeriksaan lanjutan bagi warga yang belum mendapatkan layanan. Petugas akan menjadwalkan kembali pemeriksaan di wilayah dengan jumlah peserta tinggi.
“Jika alat belum sanggup melayani seluruh warga hari ini, kami akan menjadwalkan ulang kegiatan serupa,” ujarnya.
Saat ini Trenggalek baru memiliki satu unit radiologi portable. Dinkes berharap Kementerian Kesehatan segera menambah satu unit lagi.
“Saat ini kami baru menyiagakan satu unit. Insyaallah Kementerian Kesehatan akan mengalokasikan satu unit tambahan lagi untuk Trenggalek,” ungkap Andiek.
Tambahan alat akan memperluas jangkauan pemeriksaan, terutama ke desa-desa yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan.
“Konsep kami adalah jemput bola. Warga tidak perlu repot pergi ke faskes jauh, cukup mendatangi balai desa terdekat,” jelasnya.
CKG Baru 50 Persen, Dinkes Kejar Target 60 Persen
Integrasi skrining TBC juga memperluas cakupan CKG di Trenggalek.
Hingga Agustus 2026, Dinkes PPKB mencatat realisasi CKG mencapai sekitar 50 persen. Pemerintah menargetkan cakupan tersebut naik menjadi 60 persen dari total penduduk hingga akhir tahun.
“Capaian CKG saat ini berada di kisaran 50 persen, dan kami mengejar target 60 persen dari total penduduk,” papar Andiek.
Program tersebut menyasar seluruh kelompok usia. Mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, usia produktif, hingga lansia.
Sejak tahun ajaran baru pada Juli 2026, petugas juga memperluas pemeriksaan ke sekolah. Tim kesehatan menyasar siswa SD, SMP, hingga SMA yang belum mengikuti CKG.
Kesembuhan TBC Capai 90 Persen
Di sisi pengobatan, Dinkes PPKB mencatat tingkat kesembuhan pasien TBC di Trenggalek mencapai sekitar 90 persen.
Namun, tenaga kesehatan masih menghadapi pasien yang berhenti mengonsumsi obat, meninggal dunia, atau pindah domisili tanpa melapor.
“Tingkat kesembuhan pasien kita mencapai 90 persen, sementara sisanya dipengaruhi oleh berbagai faktor dinamika di lapangan,” beber Andiek.
Sebagian pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Sebagian lainnya berpindah alamat tanpa memberikan informasi kepada petugas.
“Perubahan alamat domisili ini membuat tenaga medis kehilangan jejak pemantauan pasien,” terangnya.
Dinkes meminta masyarakat tidak takut mengikuti skrining TBC. Jika pemeriksaan awal menunjukkan indikasi TBC, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Pasien yang terbukti mengalami TBC kemudian mendapat pengobatan secara gratis.
Andiek menekankan kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam memutus penularan.
“Kunci kesembuhan terletak pada rutinitas konsumsi obat serta dorongan penuh dari keluarga terdekat,” tuturnya.
Hasil Rontgen Masih Harus Diverifikasi
Kepala Puskesmas Ngulankulon, dr. Ika Fibrin Fauziah, menegaskan hasil rontgen di Desa Pogalan belum otomatis menunjukkan seseorang positif TBC.
Tim medis masih harus menganalisis hasil pemeriksaan sebelum memasukkan data ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
“Data saat ini masih berupa data mentah yang memerlukan verifikasi dan analisis lebih lanjut,” kata Ika.
Petugas program TBC kemudian akan menyampaikan hasil pemeriksaan secara langsung dan tertutup kepada warga.
“Koordinator Program Tuberculosis akan mendatangi dan menghubungi warga secara langsung untuk menyampaikan hasilnya,” jelas Ika.
Melalui penggunaan rontgen portable, Pemkab Trenggalek kini membawa deteksi TBC lebih dekat kepada masyarakat.
Strategi jemput bola ini penting untuk mengejar kasus yang belum ditemukan. Dengan memperluas pemeriksaan hingga tingkat desa, pemerintah berharap semakin banyak penderita TBC yang terdeteksi dan segera mendapatkan pengobatan.(CIA)
Views: 2
















