Sudah Berdiri Tapi Tidak Beroperasi, 6 Dapur MBG di Trenggalek Terganjal Persoalan Administrasi

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek terus memperluas jangkauan layanan. Hingga awal Agustus 2026, sebanyak 72 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi untuk melayani masyarakat. Sementara itu, enam dapur MBG lainnya masih menunggu penyelesaian administrasi dan pencairan anggaran sebelum mulai beroperasi.

Perkembangan tersebut menunjukkan Program MBG di Bumi Menak Sopal terus berkembang. Meski demikian, pemerintah belum bisa memaksimalkan pemerataan layanan karena enam dapur produksi masih harus menyelesaikan proses administrasi.

Koordinator Wilayah (Korwil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Trenggalek, Sheila Ammanda Yadu Fadilla, mengatakan seluruh SPPG yang aktif kini menyalurkan makanan bergizi kepada berbagai kelompok penerima manfaat di seluruh wilayah Trenggalek.

“Saat ini sebanyak 72 SPPG di Trenggalek sudah aktif dan beroperasi penuh. Mereka melayani kebutuhan gizi mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” terang Sheila.

Sheila menegaskan setiap pengelola SPPG juga wajib melayani kelompok rentan gizi yang masuk kategori 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, selain memenuhi kebutuhan gizi peserta didik.

“Setiap SPPG wajib melayani ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Tim kami membagi kuota sesuai prinsip pemerataan penerima manfaat di masing-masing wilayah,” tambahnya.

Layani Lebih dari 157 Ribu Penerima Manfaat

Sebanyak 72 dapur MBG yang telah aktif kini melayani sekitar 157.425 penerima manfaat di Kabupaten Trenggalek. Para penerima tersebar di berbagai kecamatan, mulai dari peserta didik hingga kelompok rentan gizi.

Sheila memastikan seluruh dapur yang telah beroperasi menjalankan layanan secara normal tanpa mengalami penghentian operasional.

“Insyaallah seluruh SPPG yang beroperasi saat ini tidak ada yang berstatus suspend atau pembekuan,” tegasnya.

Enam Dapur Masih Menunggu Administrasi dan Anggaran

Di sisi lain, enam dapur SPPG belum dapat memulai operasional. Sheila menjelaskan kendala tersebut bukan berasal dari kesiapan sarana maupun peralatan dapur, melainkan karena pengelola masih menunggu pencairan dana operasional dan penyelesaian dokumen administrasi.

“Ada enam SPPG yang memang belum aktif. Mereka masih menunggu proses pencairan dana dan pemenuhan dokumen administrasi. Begitu seluruh berkas dan anggaran selesai, mereka bisa langsung menjalankan operasional dapur,” jelas Sheila.

Ia optimistis jangkauan Program MBG akan semakin luas setelah keenam dapur tersebut mulai beroperasi.

Program MBG Serap Lebih dari 3.100 Relawan Lokal

Program MBG tidak hanya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga Trenggalek. Saat ini, sebanyak 3.153 relawan lokal bekerja di 72 dapur SPPG yang telah beroperasi.

Setiap dapur mempekerjakan sekitar 40 hingga 45 relawan, menyesuaikan jumlah porsi makanan dan penerima manfaat yang mereka layani setiap hari.

Sheila mengatakan pengelola memprioritaskan perekrutan warga yang tinggal di sekitar lokasi dapur.

“Kami memaksimalkan perekrutan relawan dari lingkungan sekitar dapur SPPG. Kami menetapkan minimal 30 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat kategori desil 1 dan desil 2,” paparnya.

Meski demikian, tim SPPI terus memperbarui dan memverifikasi data relawan dari kelompok desil 1 dan desil 2 agar sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat terkini.

Dengan 72 dapur yang sudah beroperasi dan enam dapur lain yang segera menyusul, pengelola kini memfokuskan upaya pada penyelesaian hambatan administrasi. Langkah tersebut menjadi kunci agar seluruh SPPG dapat segera beroperasi dan memperluas pemerataan layanan Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Trenggalek.(CIA)

Views: 9