Taruna Akmil dan AAL Turun Tangan Gembleng MPLS Siswa Baru Sekolah Rakyat Trenggalek

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idMasa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Trenggalek tidak hanya mengenalkan ruang kelas kepada para siswa baru. Pihak sekolah menggandeng Taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Angkatan Laut (AAL) untuk mendampingi sekaligus mempercepat adaptasi siswa yang baru pertama kali menjalani kehidupan di sekolah berasrama (boarding school).

Melalui program Taruna Bakti, lima taruna bersama seorang perwira pendamping turun langsung menggembleng karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan wawasan kebangsaan para siswa. Kegiatan tersebut berlangsung pada 3–7 Agustus 2026.

Kepala SRT 1 Trenggalek, Yogyantoro, menjelaskan bahwa pembinaan karakter menjadi bagian penting dalam rangkaian MPLS setelah sekolah resmi diluncurkan pada 31 Juli 2026. Sebelum mengikuti pembinaan dari para taruna, seluruh siswa terlebih dahulu menjalani Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Setelah peluncuran sekolah dan pembukaan MPLS, kami menggelar berbagai kegiatan, mulai dari CKG hingga menghadirkan Taruna Akmil dan AAL melalui program Taruna Bakti. Para taruna membekali anak-anak dengan materi kepramukaan, kemandirian, disiplin, pembentukan karakter, wawasan nusantara, dan bela negara,” ujar Yogyantoro, Rabu (5/8/2026).

Terapkan Disiplin Asrama Sejak Pukul 04.00 WIB

Yogyantoro menegaskan bahwa sekolah tidak hanya membentuk karakter siswa di dalam kelas. Sejak pukul 04.00 WIB, sekolah membiasakan seluruh siswa menjalani ritme kehidupan berasrama yang disiplin.

Para siswa mengawali hari dengan salat Subuh berjemaah. Setelah itu, mereka belajar merawat diri, menjaga kebersihan lingkungan, bersosialisasi dengan teman, mengatur waktu, hingga mengikuti kegiatan belajar sampai sore hari.

“Sejak subuh anak-anak sudah memulai aktivitas. Mereka belajar merawat diri, mengurus kebutuhan sendiri, bersosialisasi, berkomunikasi, memanfaatkan waktu luang, serta menguasai keterampilan praktis sehari-hari. Jadi pembinaan berlangsung sepanjang hari,” terangnya.

Sekolah Dampingi Siswa Hadapi Culture Shock

Yogyantoro mengakui sebagian siswa masih menjalani masa transisi. Kebiasaan tinggal bersama keluarga membuat sebagian anak perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup di asrama.

Meski demikian, ia melihat proses adaptasi berjalan positif. Para siswa tetap menunjukkan antusiasme tinggi saat mengenal guru, berteman dengan sesama siswa, dan mengeksplorasi lingkungan sekolah meski sempat mengalami culture shock.

“Anak-anak sangat antusias menyambut guru dan teman baru. Memang ada sedikit culture shock karena mereka terbiasa tinggal di rumah dan kini harus beradaptasi dengan sistem boarding school. Namun kami melihat mereka terus berkembang menuju kondisi psikologis yang lebih stabil,” ungkapnya.

Untuk memperlancar proses adaptasi, sekolah menggandeng Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta berbagai mitra strategis lainnya. Tim sekolah juga menyusun materi MPLS sesuai kebutuhan siswa agar mereka cepat merasa nyaman tinggal di asrama.

“Target utama kami membuat siswa merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Karena itu, kami menyesuaikan seluruh materi dengan kebutuhan mereka agar mampu beradaptasi dengan kehidupan berasrama,” jelas Yogyantoro.

Pada hari-hari pertama MPLS, sejumlah orang tua masih mendampingi anak-anak mereka di lingkungan sekolah. Namun, pihak sekolah mulai mengurangi pendampingan tersebut secara bertahap agar para siswa lebih cepat mandiri.

Pendekatan yang memadukan disiplin, pembinaan karakter, dan pendampingan tersebut menjadi fondasi utama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, disiplin, dan mandiri sejak dini.(CIA)

Views: 5