TRENGGALEK, bioztv.id – Meski musim kemarau baru dimulai, dampaknya mulai menggerus kehidupan warga di berbagai wilayah Kabupaten Trenggalek. Sedikitnya lima kecamatan dan sembilan desa kini mengalami krisis air bersih. Kondisi darurat ini mendorong pemerintah daerah bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih sekaligus meningkatkan kewaspadaan karena puncak musim kemarau belum tiba.
Meski hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah Trenggalek dalam beberapa hari terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek tetap meminta masyarakat waspada. BMKG memprediksi hujan tersebut hanya bersifat sementara, sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
Kepala BPBD Trenggalek yang juga menjabat Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, Stefanus Triadi Atmono, mengungkapkan bahwa peta wilayah terdampak terus berubah mengikuti kondisi di lapangan setelah beberapa desa menerima hujan lokal.
“Data kami mencatat kekeringan saat ini melanda 5 kecamatan dan 9 desa. Kendati demikian, kami langsung menerjunkan armada untuk membagikan air bersih ke desa-desa yang membutuhkan,” ujar Triadi.
Kecamatan Panggul Jadi Pusat Krisis
Data BPBD menunjukkan Kecamatan Panggul mengalami dampak paling berat. Tujuh desa di kecamatan tersebut kini menghadapi krisis air bersih.
Sementara itu, dua desa lainnya berada di kecamatan yang berbeda.
Wilayah terdampak meliputi:
- Kecamatan Panggul: Desa Terbis, Nglebeng, Tangkil, Bodag, Wonocoyo, Besuki, dan Banjar.
- Kecamatan Bendungan: Desa Sumurup.
- Kecamatan Gandusari: Desa Wonoanti.
Selain itu, BPBD juga mencatat penurunan debit air di sejumlah kecamatan lain. Kondisi tersebut membuat jumlah wilayah rawan kekeringan kini bertambah menjadi lima kecamatan.
BPBD Gandeng BBWS Salurkan Air Bersih
Meluasnya wilayah terdampak mendorong Pemkab Trenggalek memperkuat pasokan air bersih. Dalam dua hari terakhir, BPBD menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas di bawah Kementerian PUPR untuk membantu distribusi air.
Triadi menjelaskan bahwa kerja sama tersebut telah menyalurkan puluhan ribu liter air bersih langsung kepada warga.
“Sepanjang hari Minggu dan Senin, kami telah mendistribusikan sekitar 24.000 liter air bersih dengan topangan penuh dari BBWS Brantas,” terang Triadi.
Pemkab Prioritaskan Kebutuhan Rumah Tangga
Triadi menegaskan bahwa BPBD memprioritaskan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan keperluan rumah tangga masyarakat.
Di sisi lain, ia meminta pemerintah desa tidak hanya menunggu bantuan tangki air. Ia juga mendorong setiap desa merawat dan mengoptimalkan fasilitas Pamsimas serta pompa submersible agar tetap berfungsi selama musim kemarau.
“Prioritas utama kami menyasar kebutuhan rumah tangga warga. Kami juga mengimbau pihak desa agar merawat fasilitas Pamsimas dan pompa submersible dengan baik, sehingga sarana tersebut tetap berfungsi optimal saat kemarau memuncak,” tegasnya.
BPBD Antisipasi Puncak Kemarau Hingga September
BPBD mengingatkan bahwa ancaman kekeringan masih berpotensi meluas. Jika curah hujan terus menurun sesuai prakiraan BMKG, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih diperkirakan akan terus bertambah.
“Prediksi BMKG menunjukkan potensi kemarau masih akan berlangsung sepanjang Agustus hingga September. Oleh karena itu, tim kami terus memantau dinamika di lapangan secara maraton,” pungkas Triadi.(CIA)
Views: 19
















