TRENGGALEK, bioztv.id – Hari pertama Tahun Ajaran 2026/2027 menghadirkan potret kontras dunia pendidikan di Kabupaten Trenggalek. Ketika sejumlah sekolah membatasi penerimaan peserta didik baru karena membludaknya pendaftar, SD Negeri 2 Parakan justru hanya menerima dua siswa baru.
Jumlah peserta didik yang sangat sedikit membuat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung dalam suasana berbeda. Dua siswa kelas 1 mengikuti seluruh rangkaian kegiatan orientasi sekolah, sementara para guru mendampingi mereka secara lebih intensif tanpa mengurangi materi yang diberikan.
Fenomena ini menjadi sinyal yang patut mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan pendidikan. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut jumlah peserta didik, tetapi juga menunjukkan menurunnya daya saing sebagian sekolah negeri di tengah ketatnya persaingan dengan sekolah swasta maupun madrasah.
Kepala SDN 2 Parakan, Siti Patonah, menegaskan bahwa jumlah siswa baru yang minim tidak akan mengurangi kualitas layanan pendidikan di sekolahnya.
“Kami tetap menjalankan MPLS sesuai instruksi Dinas Pendidikan. Guru memberikan materi orientasi yang sama seperti di sekolah lainnya,” ujar Siti Patonah, Senin (13/7/2026).
Siti menjelaskan, sekolah juga mengikutsertakan seluruh siswa kelas 2 hingga kelas 6 dalam kegiatan awal tahun ajaran agar mereka memahami pola pembelajaran yang akan berlangsung selama satu tahun ke depan.
“Kami juga mengajak siswa lama mengikuti pembekalan agar mereka memahami pembelajaran yang akan dijalani,” tambahnya.
Dua Murid Baru Berasal dari Dua Lembaga Berbeda
Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, SDN 2 Parakan hanya menerima dua siswa melalui jalur domisili. Kedua siswa tersebut terdiri atas seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Siti menjelaskan, kedua peserta didik baru itu berasal dari dua lembaga pendidikan anak usia dini yang berbeda.
“Satu siswa berasal dari TK Dharma Wanita 1 Parakan, sedangkan satu siswa lainnya lulusan RA Parakan,” jelasnya.
Meski hanya memiliki dua siswa baru, sekolah tetap menjalankan seluruh proses pembelajaran secara normal dan memberikan pelayanan yang sama seperti sekolah lain.
Tiga Sekolah Berebut Siswa di Satu Desa
Siti mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab rendahnya jumlah pendaftar di sekolahnya. Padahal, sekolah telah berupaya menarik minat masyarakat melalui berbagai program.
Para guru aktif melakukan sosialisasi, meningkatkan kualitas pelayanan, menyediakan seragam gratis, hingga menghadirkan program pemberian makanan bergizi secara berkala. Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu meningkatkan jumlah pendaftar secara signifikan.
Menurut Siti, keberadaan tiga sekolah dasar dalam satu desa turut memperketat persaingan mendapatkan peserta didik baru.
“Persaingan di Desa Parakan memang cukup ketat karena ada tiga sekolah, yaitu SDN 1 Parakan, SDN 2 Parakan, dan MI Parakan,” katanya.
Minat ke Sekolah Negeri Mulai Menurun
Siti juga melihat adanya perubahan tren di masyarakat. Menurutnya, sebagian orang tua kini mulai beralih memilih sekolah swasta atau sekolah berbasis agama.
Meski demikian, ia enggan menyimpulkan alasan di balik pilihan tersebut karena setiap orang tua memiliki pertimbangan masing-masing.
“Kami terus meningkatkan pelayanan dan melakukan sosialisasi. Namun, setiap orang tua tentu memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih sekolah. Saya tidak bisa memastikan penyebabnya,” ujarnya.
Fenomena di SDN 2 Parakan menunjukkan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak lagi sebatas penyediaan sarana atau tenaga pendidik. Sekolah juga harus bersaing mendapatkan peserta didik di tengah menurunnya jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah.
Meski hanya menyambut dua siswa baru, SDN 2 Parakan tetap menjalankan seluruh rangkaian MPLS secara optimal dan berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang setara bagi setiap peserta didiknya.(CIA)
Views: 7
















