Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis di Trenggalek, Limbah Jadi Sorotan Satgas

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idSatuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Trenggalek mulai mengevaluasi pelaksanaan program secara serius. Tim Satgas turun langsung memantau sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan menemukan catatan penting, terutama pada aspek sanitasi serta pengelolaan limbah.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, menyebut sebagian besar fasilitas dapur di beberapa titik sudah memenuhi standar operasional. Namun, ia menyoroti persoalan krusial pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum sesuai standar industri makanan.

“Saya menilai fasilitas dapur sudah memenuhi persyaratan. Namun, pengelola masih menggunakan sistem IPAL seperti rumah tangga,” ujar dr. Sunarto.

Produksi Besar, Sistem Limbah Harus Ditingkatkan

Sunarto menjelaskan bahwa program MBG berjalan dalam skala produksi besar. Karena itu, pengelola SPPG harus menggunakan sistem pengolahan limbah yang lebih memadai.

Ia menilai sistem IPAL rumah tangga tidak lagi relevan untuk menampung limbah dapur dalam jumlah besar.

Menindaklanjuti temuan tersebut, sejumlah pengelola SPPG langsung mengambil langkah cepat dengan memesan perangkat IPAL baru.

“Pengelola SPPG Ngetal dan Trenggalek Ngantaru 3 sudah memesan IPAL standar. Saat ini, mereka menunggu proses pengiriman,” jelasnya.

SOP Ada, Tapi Sosialisasi Masih Lemah

Selain persoalan teknis, Satgas juga menemukan kelemahan dalam penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). dr. Sunarto menilai pengelola sudah memiliki SOP, tetapi belum menyosialisasikannya secara maksimal kepada relawan.

“Pengelola sudah memiliki SOP, tetapi mereka belum menyampaikan secara optimal kepada relawan. Seharusnya mereka juga melengkapi dokumentasi seperti foto dan materi sosialisasi,” katanya.

Ia menegaskan pemahaman relawan terhadap SOP menjadi kunci utama untuk menjaga kualitas program, terutama dalam menjamin keamanan pangan.

Satgas Pastikan Lahan Aman

Satgas juga memeriksa aspek legalitas lahan. Tim memastikan bangunan SPPG tidak berdiri di atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD) agar tidak menimbulkan masalah hukum.

Tim menemukan dua lokasi, yakni dapur Ngetal (Pogalan) dan Trenggalek Ngantaru 3, dalam kondisi aman dari pelanggaran tata ruang.

“Kami memastikan dua lokasi tersebut aman, sehingga pengelola bisa melanjutkan pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),” ungkap dr. Sunarto.

Kejar Sertifikat SLHS

Saat ini, sejumlah SPPG masih menyelesaikan proses pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat ini menjadi syarat utama untuk memastikan dapur beroperasi sesuai standar kesehatan.

Satgas juga terus memetakan titik lain untuk memastikan kesiapan sanitasi dan status lahan di wilayah yang belum mereka kunjungi.

Evaluasi Berkelanjutan

Satgas menegaskan akan terus melakukan monitoring secara berkala. Mereka ingin memastikan program MBG berjalan sesuai standar, baik dari sisi fasilitas, sanitasi, maupun tata kelola.

“Kami akan terus mengawal program ini agar berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat maksimal,” tegas dr. Sunarto.

Evaluasi ini menjadi langkah penting agar program Makan Bergizi Gratis di Trenggalek tidak hanya berjalan, tetapi juga tetap menjaga aspek kesehatan lingkungan dan keberlanjutan.(CIA)

Views: 12