TRENGGALEK, bioztv.id – Perubahan kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu efek domino yang langsung memukul pelaku usaha lokal di Trenggalek. Badan Gizi Nasional (BGN) menghapus menu kering, sehingga para pengusaha roti yang selama ini menjadi pemasok utama dapur MBG kini kehilangan pasar.
Kebijakan ini tidak sekadar mengubah menu, tetapi juga menurunkan produksi secara drastis dan memicu pengurangan tenaga kerja di sektor UMKM.
UMKM Roti Terpukul
Ketua Asosiasi UMKM Trenggalek, Muhammad Sulhan, menyampaikan langsung kondisi para pelaku usaha yang terdampak kebijakan tersebut. Ia menilai penghapusan menu kering menghantam sektor usaha mikro yang bergantung pada program MBG.
“Kondisi UMKM kami, khususnya pengusaha roti, saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penghapusan menu kering oleh BGN berdampak sangat besar bagi kami yang selama ini menyuplai kebutuhan SPPG di Trenggalek,” ujar Sulhan.
Kehilangan Pasar dari Puluhan Dapur
Sebelum kebijakan berubah, para pelaku UMKM roti aktif menyuplai kebutuhan lebih dari 10 SPPG. Aktivitas tersebut menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan.
“Dulu kami menyuplai lebih dari 10 SPPG. Perputaran ekonominya sangat terasa dan sangat membantu UMKM,” ungkapnya.
Pesanan roti untuk menu kering bahkan menjadi sumber pendapatan utama, terutama saat permintaan meningkat menjelang Lebaran. Kini, para pengusaha kehilangan peluang tersebut.
Produksi Turun, Karyawan Dirumahkan
Penurunan permintaan membuat pelaku usaha terpaksa memangkas jumlah produksi dan tenaga kerja. Banyak karyawan yang sebelumnya bekerja untuk memenuhi target kini harus dirumahkan.
“Kami sempat mempekerjakan hingga 68 karyawan untuk mengejar target produksi menu MBG. Kini jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya 12 orang. Kami masih menunggu perkembangan bulan depan,” tambah Sulhan.
Pemerintah Prioritaskan Kualitas Gizi
Di sisi lain, Satgas MBG Trenggalek menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga kualitas gizi dan keamanan pangan bagi siswa. Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, menyatakan pemerintah kini beralih ke menu makanan basah.
“Kami ingin menjamin kualitas makanan bagi anak-anak agar nilai gizinya sesuai standar. Kami menggunakan menu basah agar tidak ada lagi makanan yang dikemas plastik,” tegas Sunarto.
Pemerintah juga melarang distribusi sistem rapel agar makanan tetap segar saat dikonsumsi dan tidak berisiko basi.
Dilema: Gizi atau Ekonomi
Kondisi ini memunculkan dilema nyata di Trenggalek. Pemerintah harus menjaga standar gizi siswa, namun di sisi lain pelaku UMKM lokal harus menanggung dampak ekonomi yang besar.
Kini, para pengusaha roti berharap pemerintah menghadirkan solusi baru agar mereka tetap bisa berkontribusi dalam program MBG tanpa kehilangan mata pencaharian.(CIA)
Views: 74

















