Kenali Gejala Awal ODGJ, Mulai Dari Susah Tidur, Jantung berdebar Hingga Mudah Tersinggung

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Trenggalek masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan. Dinas Kesehatan setempat menegaskan bahwa gangguan jiwa berat tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, stres berkepanjangan yang tidak tersalurkan dengan baik secara perlahan memicu kerusakan kesehatan mental.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Trenggalek, dr. Sunarto, menyebut tekanan ekonomi dan sosial sebagai faktor pemicu utama. Ia menilai laki-laki menjadi kelompok paling rentan karena cenderung memendam masalah seorang diri.

“Di Trenggalek, banyak laki-laki bersikap tertutup dan jarang bercerita. Mereka menyimpan masalah sendiri hingga stres menumpuk dan berubah menjadi bom waktu,” ujar dr. Sunarto.

Tekanan Hidup Berlapis Tekan Kesehatan Mental

Peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama sering kali menempatkan mereka dalam tekanan psikologis yang berat. Selain tuntutan ekonomi, mereka juga menghadapi tekanan kerja dan ekspektasi sosial tanpa ruang pelampiasan yang sehat.

“Di rumah mereka harus memenuhi kebutuhan keluarga, di kantor menghadapi tekanan atasan, dan di lingkungan sosial juga menerima berbagai tuntutan. Jika terus dibiarkan, tekanan ini merusak stabilitas emosional,” jelas dr. Sunarto.

Enam Gejala Awal Gangguan Jiwa yang Sering Diabaikan

Sebelum seseorang mengalami gangguan jiwa berat, tubuh biasanya lebih dulu mengirimkan sinyal melalui gejala psikosomatis. dr. Sunarto mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal berikut:

  • Gangguan tidur – Insomnia berkepanjangan dan sulit teratasi.
  • Keluhan lambung – Maag atau nyeri lambung tanpa penyebab medis jelas.
  • Jantung berdebar – Rasa cemas berlebihan disertai detak jantung cepat.
  • Masalah kemih – Frekuensi buang air kecil meningkat akibat kecemasan.
  • Perubahan nafsu makan – Nafsu makan menurun drastis secara mendadak.
  • Perubahan perilaku – Menarik diri, mudah tersinggung, atau kehilangan minat pada aktivitas yang disukai.

“Jika seseorang mengabaikan gejala ini tanpa bantuan ahli atau tanpa tempat bercerita, kondisinya bisa berkembang menjadi gangguan jiwa berat,” tegasnya.

Data Ungkap Dominasi ODGJ Laki-laki

Data Diskesdalduk KB Trenggalek menunjukkan jumlah kasus ODGJ relatif stabil karena penyakit ini bersifat kronis. Saat ini, jumlah penderita berkisar antara 1.000 hingga 1.500 orang.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mendominasi angka tersebut:

  • Laki-laki: 943 orang
  • Perempuan: 567 orang

“Karena bersifat kronis, jumlah kasus ini jarang melonjak drastis dalam waktu singkat,” tambah dr. Sunarto.

Skrining Dini dan Keluarga Jadi Garda Terdepan

Pemerintah Kabupaten Trenggalek terus mengintensifkan skrining kesehatan jiwa melalui posyandu, sekolah, hingga layanan lansia. Pemerintah menargetkan deteksi dini agar gangguan mental tidak berkembang menjadi ODGJ.

Namun, dr. Sunarto menegaskan bahwa keluarga memegang peran paling penting dalam pencegahan dan pemulihan.

“Sering kali masalah utama bukan penyakit fisik, melainkan stres yang tidak tersalurkan. Dukungan dan pendampingan keluarga menjadi kunci utama pemulihan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penderita ODGJ tetap memiliki peluang untuk hidup produktif dan menjalani aktivitas normal selama keluarga dan lingkungan memberikan pendampingan yang konsisten dan tepat.(CIA)

Views: 100