Waspada Bencana di Trenggalek, BMKG Jatim Prediksi Hujan Lebat Pada Awal Desember

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – BMKG memprediksi intensitas hujan di Jawa Timur terus meningkat. Kondisi ini membuat Kabupaten Trenggalek kembali masuk zona waspada tinggi. Menindaklanjuti peringatan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek langsung memperketat kesiapsiagaan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menegaskan bahwa peningkatan curah hujan dapat memicu berbagai jenis bencana.

“Prakiraan BMKG menunjukkan kemungkinan peningkatan hujan sedang hingga lebat disertai petir hingga tanggal 9 November,” ujar Triadi.

Triadi menjelaskan bahwa kondisi geografis Trenggalek yang didominasi perbukitan membuat bencana sering muncul secara tiba-tiba ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Karena itu, kami harus mengantisipasi banjir, banjir luapan, tanah longsor, cuaca ekstrem, bahkan pohon tumbang,” tegasnya.

BPBD Perketat Mitigasi: Pasang EWS hingga Merampingkan Pohon

BPBD Trenggalek terus memperkuat langkah pencegahan. Instansi ini menggandeng sejumlah pihak untuk memangkas pohon besar di area publik serta membersihkan ranting yang berpotensi membahayakan. Tim BPBD juga menangani titik rawan longsor secara lebih intens.

BPBD Provinsi Jawa Timur turut memberi dukungan berupa pemasangan Early Warning System (EWS) tanah longsor. Salah satu titik pemasangan berada di Dusun Kajar, Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo.

“Insyaallah, Tim akan memasang EWS besok Sabtu, tanggal 6 Desember, jika tidak ada kendala,” jelas Triadi.

Sebelumnya, BPBD sudah memasang sistem peringatan dini serupa di Desa Depok Bendungan dan Timahan, Kecamatan Kampak.

Warga Pesisir Selatan Diminta Waspada Gelombang Tinggi

Triadi juga mengingatkan masyarakat pesisir, terutama nelayan, agar rutin memperbarui informasi cuaca terkait potensi gelombang tinggi di Samudra Hindia.

Ia menyebut, BPBD dan BMKG telah membekali nelayan dengan ilmu mitigasi melalui Sekolah Lapang Cuaca. Masyarakat Panggul juga mengikuti Sekolah Lapang Gempa Bumi.

“Ilmu-ilmu itu melatih kesiapsiagaan kita. Kalau sewaktu-waktu bencana terjadi, kita bisa memitigasi atau mengurangi risiko,” ujarnya.

107 TRC Disiagakan: Desa Tangguh Bencana Menjadi Benteng Awal

BPBD Trenggalek kini mengandalkan 107 Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bekerja bersama Tagana dan relawan lain untuk memperkuat kesiapsiagaan di desa maupun kawasan perkotaan. Desa tangguh bencana di Trenggalek sudah memiliki peta kerawanan hingga tingkat RT dan RW.

“Jika di salah satu desa sering terjadi bencana, tim harus memahami bagaimana mengantisipasi kerawanan mulai dari level RT, RW, dan seterusnya,” jelas Triadi.

Sebagai tambahan, BPBD membuka pos antisipasi di 20 desa rawan bencana yang tersebar di Kecamatan Dongko, Panggul, dan Munjungan. Triadi menegaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem prioritas dalam penanganan.

“Desa-desa yang sering mengalami bencana menjadi prioritas utama kami,” tutupnya.(CIA)

Views: 30