TRENGGALEK, bioztv.id – Polemik tagihan listrik yang membengkak pada gelaran Pasar Rakyat E-Kraf dan Hari Jadi ke-831 Kabupaten Trenggalek akhirnya menemukan titik terang. PLN Trenggalek mengakui bahwa petugas salah membaca meter sehingga simulasi tagihan nyaris dua kali lipat dari pemakaian sebenarnya.
Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Trenggalek, Yehezkiel, menyebut kesalahan itu murni terjadi karena foto meteran tidak jelas. Pada simulasi awal, petugas mencatat angka 1553. Namun setelah PLN mengecek ulang dengan foto yang lebih terang, angka sebenarnya adalah 7553.
“Angka 7 terlihat seperti angka 1, sehingga selisihnya sekitar 6.000 kWh,” jelasnya, Kamis (4/9/2025).
Tagihan Bengkak Gara-Gara Foto Meteran Buram
Yehezkiel menjelaskan, perbedaan angka tersebut membuat simulasi awal membengkak hampir dua kali lipat. Petugas menghitung pemakaian mulai dari angka 1553, sehingga beban tagihan tampak lebih besar. Namun hasil evaluasi terbaru membuktikan bahwa stan meter awal sebenarnya 7553.
“Tapi sekali lagi, itu belum menjadi tagihan resmi. Itu masih simulasi awal yang kami informasikan ke pelanggan,” tegasnya.
Setelah melakukan pengecekan ulang, PLN langsung mengoreksi data pemakaian riil. Mereka juga segera mengirimkan jumlah tagihan baru kepada pihak EO.
“Kami sudah revisi berdasarkan eviden foto yang lebih jelas, dan langsung kami sampaikan ke pelanggan,” tambahnya.
PLN menolak anggapan bahwa kasus ini bentuk kecurangan. Menurut Yehezkiel, kesalahan murni terjadi karena human error saat membaca angka pada dokumentasi.
“Tidak ada niat atau kesengajaan untuk membebani pelanggan. Kesalahan terjadi karena dokumentasi awal tidak jelas, sehingga angka terbaca keliru,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui peristiwa ini menjadi bahan evaluasi internal. PLN berkomitmen memperbaiki standar dokumentasi dan pengecekan agar kejadian serupa tidak terulang.
Menunggu Pembayaran dari EO
Saat ini, PLN masih menunggu pihak Event Organizer (EO) menyelesaikan administrasi pembayaran. PLN sudah mengirimkan tagihan terbaru sesuai pemakaian riil, dan EO diharapkan segera melunasinya.
“Sudah saya simulasikan sesuai data terbaru, dan tinggal menunggu penyelesaian pembayaran dari pihak EO,” tandasnya.
Meski PLN telah mengakui kesalahan, kasus ini menyisakan catatan penting. Jika EO tidak mengajukan komplain, mereka bisa saja membayar tagihan yang bukan kewajibannya. Dalam konteks acara besar seperti Hari Jadi Trenggalek, pembengkakan tagihan semacam ini bukan hanya masalah teknis, melainkan juga menyangkut kepercayaan publik terhadap layanan PLN sebagai BUMN.
Diberitakan sebelumnya, Manager lapangan EO One Rich Vision, Rafik Susilo menilai ada nominal tagihan yang tidak wajar. Mereka memperkirakan tagihan listrik hanya sekitar Rp15–16 juta. Namun, saat event selesai, mereka mengaku menerima tagihan sekitar Rp28 juta lebih.
Karena merasa janggal, pihak EO meminta PLN Trenggalek melakukan evaluasi. Setelah evaluasi, ternyata ada kesalahan baca meter dan nominal tagihan kembali sesuai prediksi awal, sekitar Rp16 juta. (CIA)
Views: 387

















