Pelaku Pembakar Mobil Kades Wonokerto Divonis Skizofrenia, Kambuh & Ungkit  Sengketa Warisan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Tragedi pembakaran mobil Kepala Desa Wonokerto, Kecamatan Suruh, menyingkap persoalan yang jauh lebih pelik dari sekadar tindak kriminal. Pelaku, Sutarmin alias Ketro (45), membakar mobil sang kades dan melukai korban setelah kambuh akibat skizofrenia yang ia derita. Polisi dan warga menduga kambuhnya penyakit itu dipicu karena Ketro tidak rutin minum obat serta terlibat konflik warisan keluarga.

RSUD Pastikan Ketro Menderita Skizofrenia

Humas RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Sujiono, memastikan dokter sudah memvonis Ketro sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat dengan diagnosis skizofrenia.

“Pada 21 Agustus 2025 kami menerima pasien rujukan. Hasil pemeriksaan spesialis jiwa menunjukkan pasien ini masih membutuhkan pengobatan lanjutan agar emosinya stabil,” kata Sujiono.

Ia menjelaskan dokter tidak perlu memberi injeksi pada pasien, karena obat oral sudah cukup. Namun, ia menekankan keluarga harus disiplin mendampingi pasien agar tidak putus obat.

“Jika pasien berhenti minum obat, risiko kambuh akan sangat tinggi. Karena itu pendampingan keluarga dan puskesmas wilayah menjadi faktor penentu,” tambahnya.

Konflik Warisan Picu Amukan

Amukan Ketro tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum membakar mobil Daihatsu Ayla milik Kades Wonokerto, Eko Wardono, dan motor Ketua RT Sutaji, Ketro lebih dulu membacok kambing milik saudaranya sendiri. Warga menduga perselisihan warisan keluarga yang lama terpendam memicu ledakan emosinya.

Kondisi ini memperlihatkan celah serius: penyakit lama yang tidak tertangani dengan baik akhirnya berpadu dengan bara konflik keluarga, lalu berubah menjadi tragedi sosial.

Dilema Pendampingan Pasien ODGJ

Meskipun dokter menilai Ketro cukup menjalani rawat jalan, pertanyaan besar tetap muncul: siapa yang benar-benar bertanggung jawab mendampingi pasien? RSUD menegaskan bahwa pihaknya hanya memastikan aspek medis, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga.

“Status medisnya jelas, pasien ini ODGJ berat dengan skizofrenia. Tapi kalau keluarga tidak konsisten mendampingi, potensi kambuh pasti terus ada,” tegas Sujiono.

Stigma Sosial Perburuk Kondisi Pasien

Skizofrenia tergolong gangguan mental kronis yang memengaruhi cara penderita berpikir, merasakan, dan berperilaku. Penderitanya sering kesulitan membedakan kenyataan dengan imajinasi. Sayangnya, stigma sosial yang masih kuat membuat banyak keluarga enggan mendampingi atau bahkan malu mengakui kondisi anggota keluarganya.

Kasus Ketro menjadi peringatan keras bahwa perawatan medis tanpa pendampingan keluarga dan dukungan sosial hanya akan melahirkan lingkaran kambuh tanpa ujung.(CIA)

Views: 49