Cuaca Ekstrem Lumpuhkan Nelayan Prigi, Harga Ikan di Trenggalek Melonjak Tajam

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idCuaca ekstrem telah melumpuhkan aktivitas nelayan Trenggalek, menyebabkan harga ikan laut melonjak tajam. Sejak empat bulan terakhir, kondisi perairan selatan Kabupaten Trenggalek sangat ekstrem. Kondisi ini memaksa ratusan nelayan di kawasan Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, berhenti melaut.

Minimnya pasokan ikan akibat terhentinya aktivitas tangkap menyebabkan harga ikan di pasaran meroket. Jenis ikan tongkol yang biasanya dijual Rp4.000 hingga Rp10.000 per kilogram saat panen raya, kini menembus Rp25.000 per kilogram.

“Kalau cuaca ekstrem seperti ini, harga ikan memang naik luar biasa. Stok sangat sedikit, dan hanya kapal dari daerah lain yang masih berani berangkat melaut,” ungkap Mamat, salah satu nelayan Pantai Prigi.

Gelombang tinggi disertai angin kencang terus menghantam kawasan pesisir Samudera Hindia, termasuk di Teluk Prigi. Ketinggian ombak bahkan mencapai 4 hingga 5 meter di laut lepas. Akibatnya, aktivitas penangkapan ikan di wilayah ini lumpuh total. Kapal-kapal yang biasanya hilir mudik saat musim ikan, kini hanya terparkir di tepi pantai, tidak berani melaut.

“Cuaca memburuk sudah sekitar empat bulan ini. Yang paling ekstrem itu dua bulan terakhir, bulan Juni dan Juli,” ujarnya.

Anomali Cuaca Landa Musim Panen Ikan

Menurut Mamat, kondisi cuaca biasanya mulai tenang sejak April dan memasuki puncak panen raya pada bulan Juni hingga September. Namun tahun ini, anomali cuaca justru datang saat momen yang paling nelayan nantikan. Ratusan nelayan di kawasan itu pun tidak bisa melaut, termasuk nelayan Purse Seine, kapal tonda, hingga pancing ulur.

“Biasanya, nelayan tonda itu sampai lintang sembilan atau 100 mil lebih ke tengah laut. Sekarang semuanya tidak berani melaut. Bahkan yang memakai pancing ulur di sekitar pantai juga berhenti, karena gelombang tinggi dan angin kencang. Jika sudah begini, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tambahnya.

Situasi ini tidak hanya membuat nelayan kehilangan penghasilan harian, tetapi juga menimbulkan persoalan sosial ekonomi di kawasan pesisir. Sebagian nelayan yang memiliki lahan pertanian masih bisa bertahan, tetapi mayoritas kini hanya bisa menunggu cuaca kembali normal.

“Kami di sini jika tidak bisa melaut ya menganggur. Menunggu angin dan ombak reda. Kalau terus-terusan seperti ini, keluarga nelayan makin kesulitan,” tutur Mamat.

Hingga berita ini kami tulis, cuaca di wilayah perairan selatan Trenggalek masih belum bersahabat. Ratusan nelayan masih memilih berhenti melaut, menunggu langit cerah dan ombak kembali bersahabat.(CIA)

Views: 27