100 Hari Kerja Bupati-Wabup Trenggalek: Mahasiswa Desak Realisasi Janji, Bukan Sekadar Retorika

oleh
oleh
Seratus hari pertama kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek menjadi sorotan tajam di kalangan mahasiswa
Seratus hari pertama kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek menjadi sorotan tajam di kalangan mahasiswa

TRENGGALEK, bioztv.id – Seratus hari pertama kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek menjadi sorotan tajam di kalangan mahasiswa. Mereka menilai, masyarakat belum merasakan langkah nyata dari pasangan kepala daerah sejak pelantikan.

Ramadan Agung Prasetya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP PGRI Trenggalek, secara tegas menyampaikan kritiknya. Menurutnya, 100 hari kerja pasangan Mochamad Nur Arifin alais Mas Ipin dan Wakilnya Syah Muhammad Natanegaraseharusnya menjadi momentum penting untuk menunjukkan arah kebijakan yang jelas, bukan hanya wacana politik.

“Kami rasa sampai saat ini belum terlihat langkah konkret yang mencerminkan keseriusan pemerintah daerah. Padahal, periode awal ini penting sebagai etalase kepemimpinan dan komitmen kepada rakyat,” ujarnya.

Ramadan menjelaskan, selama masa kampanye, pasangan kepala daerah Trenggalek telah menjanjikan lima misi besar. Misi-misi tersebut meliputi pengembangan infrastruktur digital, pembangunan kota pariwisata berwawasan lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal berbasis BUMD dan UMKM.

Namun, dari sekian banyak program yang dijanjikan, Ramadan menilai belum ada yang berjalan maksimal di lapangan. Ia menegaskan bahwa warga berhak mengetahui sejauh mana janji-janji tersebut mulai direalisasikan.

“Ini bukan soal politik praktis, tapi soal tanggung jawab moral kepada masyarakat. Pemerintah harus terbuka, rakyat butuh tahu apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum. Transparansi seperti ini penting untuk menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.

Meski 100 hari terbilang singkat, Ramadan menambahkan, waktu tersebut seharusnya cukup untuk menunjukkan langkah awal yang terukur. Ia memastikan, mahasiswa hadir bukan sebagai lawan pemerintah, melainkan sebagai mitra kontrol sosial demi perbaikan kinerja pemerintahan ke depan.

“Kritik kami bukan untuk menjatuhkan, justru sebagai bentuk partisipasi publik. Pemerintah jangan alergi dengan masukan, karena itulah salah satu energi untuk memperbaiki pelayanan dan pembangunan,” tutup Ramadan.

Hingga berita ini kami turunkan, Pemerintah Kabupaten Trenggalek belum memberikan pernyataan resmi terkait evaluasi 100 hari kerja tersebut. Mahasiswa berharap, kritik ini dapat menjadi bahan introspeksi sekaligus pemacu bagi kepala daerah untuk segera merealisasikan program-program prioritas yang telah mereka janjikan kepada masyarakat.(CIA)

Views: 61