TRENGGALEK, bioztv.id – Bukan sekedar undangan kartu atau surat biasa!. Di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, warga memiliki cara unik dan mencolok untuk mengundang tamu ke pernikahan atau khitanan. Mereka memasang banner besar di pinggir jalan, menyerupai baliho kampanye calon legislatif. Tradisi ini sudah lama mengakar di daerah pesisir selatan Jawa Timur.
Warga Munjungan memilih banner raksasa ini untuk menyebarkan informasi hajatan. Setiap banner menampilkan foto calon pengantin atau anak yang dikhitan, lengkap dengan detail acara. Alhasil, pemandangan di sepanjang jalan Munjungan seringkali dihiasi “baliho” hajatan yang menarik perhatian.
Meski zaman telah serba digital, tradisi puluhan tahun ini tetap bertahan dan bahkan dinilai efektif.
“Kalau di Munjungan, sejak dulu kami sudah biasa pakai banner seperti itu. Dulu, sebelum ada teknologi, undangan ditulis tangan. Orang sini menyebutnya ‘ulem-ulem’,” jelas Wahyu Ansory, warga Dusun Masaran, Kecamatan Munjungan.
Wahyu menjelaskan, banner undangan mirip baliho caleg muncul dari keinginan warga agar informasi acara cepat menyebar luas. Desain mencolok dan penempatan strategis menjadi alasan utama popularitas metode ini.
“Karena teknologi makin canggih, mungkin masyarakat melihat kampanye caleg itu menarik. Nah, undangan hajatan kami buat seperti itu biar mudah dilihat warga, khususnya di Munjungan yang jalanannya ramai dari pagi sampai sore,” tambahnya sambil tersenyum.
Lokasi penempatan banner juga tidak sembarangan. Wahyu menyebut beberapa titik favorit yang sering dilalui warga, seperti Perempatan Gembes, Pertigaan Pantai Blado, dan Pertigaan Jembatan Kali Tengah. Banner-banner ini memuat informasi lengkap: nama penyelenggara, waktu, tempat, hingga foto calon pengantin atau anak yang akan dikhitan.
Menariknya, banner undangan ini lebih dari sekadar pemberitahuan acara. Bagi warga Munjungan, kemunculan banner di jalan utama desa menjadi bentuk penghormatan kepada masyarakat sekitar dan wujud keterbukaan.
“Yang memasang biasanya keluarga atau panitia hajatan. Selain undangan pribadi, banner itu sekaligus undangan terbuka. Siapa saja yang melihat, boleh datang. Di sini, kalau ada hajatan, semua ikut meramaikan,” ujar Wahyu.
Fenomena unik ini mulai menyebar ke wilayah sekitar Munjungan. Beberapa kecamatan tetangga, seperti Kampak, Watulimo, Dongko, Panggul, hingga Pule, mulai mengadopsi tradisi undangan banner ini.
“Mungkin karena dianggap efektif, ya. Orang lewat langsung tahu ada hajatan, tinggal lihat bannernya. Apalagi kalau yang diundang banyak, ini cara yang gampang,” imbuh Wahyu.
Tradisi ini bukan hanya tren sesaat, melainkan bagian dari budaya lokal yang lestari di tengah gempuran teknologi. Selain menyampaikan informasi, banner-banner ini juga menjadi ciri khas desa yang dikenal akrab dan guyub.
“Ini kebiasaan yang bagus, kalau bisa terus dilestarikan. Daerah lain jarang yang seperti ini. Munjungan punya cara khas untuk mengajak orang datang ke hajatan,” kata Wahyu.
Banner hajatan tidak hanya memuat informasi, tetapi juga dihiasi kalimat sambutan khas ala undangan di kampung, seperti “Mugi Pinaringan Rahayu” atau “Turut Mengundang Seluruh Handai Taulan”. Kesan hangat dan kebersamaan semakin terasa melalui cara ini.
Di balik kesederhanaannya, banner undangan ini menyimpan nilai kebersamaan yang kuat antarwarga. Undangan terbuka ini mencerminkan karakter masyarakat Munjungan yang ramah dan terbuka terhadap siapa saja. (CIA)
Views: 92
















