TRENGGALEK, bioztv.id – Petani di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tengah menikmati angin segar. Setelah sekian lama dihimpit harga rendah dari tengkulak, kini mereka bisa sedikit tersenyum berkat kehadiran Bulog yang membeli gabah dengan harga lebih bersahabat.
Namun di balik rasa syukur itu, masih terselip harapan besar, agar harga gabah bisa naik hingga Rp 7.000 per kilogram dan penyerapan terus berlangsung secara konsisten.
Di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, sedikitnya sudah 20 ton gabah dari 14 petani telah diserap Bulog dengan harga Rp 6.500 per kilogram. Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan tawaran dari tengkulak yang hanya berkisar Rp 5.800 hingga Rp 6.000.
“Harga dari Bulog lebih mendingan, Mas. Dibanding tengkulak yang cuma Rp 5.800, Bulog beli Rp 6.500. Selisihnya lumayan. Setidaknya kami merasa usaha kami dihargai,” ujar Yulianto, seorang petani asal Karanganom, saat ditemui usai panen.
Namun, di balik penyerapan ini, Yulianto mengungkapkan bahwa biaya produksi padi terus meroket. Mulai dari harga pupuk, pestisida, hingga sewa alat dan tenaga kerja, semuanya membengkak. Dari hasil panen di lahan seluas 80 ru (sekitar 0,11 hektare), Yulianto mengaku hanya menjual 10 sak gabah karena sisanya harus disisihkan untuk kebutuhan konsumsi dan cadangan musim tanam berikutnya.
“Biaya bertani sekarang mahal semua. Kalau harga gabah cuma Rp 5.800 seperti yang ditawarkan tengkulak, ya bisa rugi,” tegasnya.
Yulianto juga berharap, agar harga gabah kedepannya bisa dinaikkan sampai Rp 7.000 per kilo dengan penyerapan yang konsisten.
“Supaya petani bisa untung, bukan cuma balik modal,” imbuhnya
Kepala Desa Karanganom, Muntingah, turut membenarkan bahwa penyerapan oleh Bulog sangat membantu petani di wilayahnya. Menurutnya, penyerapan gabah oleh Bulog di desa tersebut menunjukkan dampak langsung terhadap stabilitas harga dan kesejahteraan petani.
“Penyerapan Bulog ini menyelamatkan petani. Harga Rp 6.500 itu sudah sesuai dengan biaya tanam dan perawatan di musim tanam pertama (MT 1),” ujarnya.
Muntingah juga menegaskan, jika semua panen bisa diserap Bulog, maka petani tidak perlu lagi mengandalkan tengkulak yang seenaknya menekan harga.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya konsistensi dari pemerintah dan Bulog dalam menyerap gabah petani secara maksimal. Pasalnya, jika penyerapan tidak merata, maka tengkulak tetap menjadi pilihan terakhir petani yang terdesak kebutuhan.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah agar konsisten menata kebijakan harga komoditas pertanian. Sebab, kesejahteraan petani bukan hanya soal panen yang berhasil, tapi juga harga jual yang layak dan jaminan pasar yang pasti.
Kini, harapan petani sederhana, harga gabah tak hanya stabil di Rp 6.500, tapi naik mendekati Rp 7.000.
“Jika itu bisa diwujudkan, bukan hanya senyum, tapi optimisme petani akan semakin menguat di tengah tantangan pertanian yang makin kompleks,” pungkasnya.(CIA)
Views: 6
















