Lebaran Ketupat, Pengrajin Ketupat di Trenggalek Panen Rezeki, Penjual Tewel Justru Lesu

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Hari Raya Ketupat yang jatuh sepekan setelah Idulfitri selalu menyisakan kisah tersendiri bagi sebagian warga Trenggalek. Bagi Paito (56), warga Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, momen ini bukan hanya tradisi, tetapi juga sumber rezeki yang datang setahun sekali.

Sejak Lebaran hari kelima, ia sudah terlihat sibuk di sudut pasar basah, menjajakan puluhan ikat ketupat anyaman janur. Tangannya lincah, wajahnya ramah, dan senyumnya tak pernah absen menyapa pembeli yang datang satu per satu.

“Jualannya cuma pas momen ketupat saja. Kalau di hari biasa, siapa yang mau beli? Saya mulai jual sejak H+5, nanti selesai di hari ketujuh Lebaran,” ujar Paito, sambil tetap merapikan dagangannya, Minggu (6/4/2025).

Ketupat yang ia jual dibanderol Rp8.000 hingga Rp10.000 per ikat, berisi 10 buah. Harganya ditentukan dari ukuran: makin besar, makin mahal. Tahun ini, Paito membawa lebih dari seribu ketupat, dan hampir semuanya ludes dibeli warga lokal hingga dari luar kota seperti Blitar.

Meski bahan baku janur semakin sulit didapat, Paito memilih untuk tidak menaikkan harga. “Saya dapat janur dari Kecamatan Dongko, kakak saya yang bawakan. Tapi saya nggak berani naikkan harga, karena janur itu nggak tahan lama. Tiga hari saja sudah layu, jadi harus cepat laku,” ungkapnya.

Namun, tak semua pedagang kebagian berkah serupa. Rusmini, pedagang nangka muda yang mangkal tak jauh dari tempat Paito berjualan, justru mengeluh dagangannya sepi pembeli. Padahal sayur nangka muda merupakan salah satu menu andalan yang biasa disajikan saat Lebaran Ketupat.

“Biasanya sehari bisa habis ratusan kilo, sekarang cuma 50 kilogram. Turun jauh sekali. Padahal harganya juga sudah turun dari Rp40.000 jadi Rp20.000 per kilo,” keluh Rusmini.

Ia menduga, selera masyarakat mulai bergeser. Mungkin, kata dia, warga mulai beralih ke menu lain seperti opor ayam, sayur lodeh, atau hidangan instan lainnya yang lebih praktis.

Meski begitu, wajah Rusmini tetap tersenyum menerima kenyataan. Baginya, lebaran tetaplah waktu yang penuh syukur, meski dagangan tak sebanyak tahun lalu.

“Yang penting tetap semangat, rezeki sudah ada yang ngatur,” tutupnya dengan suara pelan.

Di tengah gegap gempita Lebaran Ketupat, kisah Paito dan Rusmini menjadi potret kecil dari dinamika kehidupan rakyat kecil. Ada yang panen rezeki, ada pula yang harus bersabar. Namun semuanya tetap dijalani dengan hati yang lapang dan senyum yang tulus.(CIA)

Views: 1