TRENGGALEK, bioztv.id – Dampak lonjakan harga minyak goreng dan kedelai yang terjadi selama beberapa waktu terakhir, pengusaha tempe kripik di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, akhirnya harus mengurangi kapasitas produksi. Pasalnya, lonjakan harga bahan baku ini berdampak pada tinginya kebutuhan biaya operasional.
Mengacu keterangan salah satu pengusaha tempe kripik sagu di Kabupaten Trenggalek, mahalnya harga minyak goreng turut berdampak pada usahanya. Terlebih selain minyak goreng mahal, bahan baku lain seperti kedelai dan tepung tapioka juga mengalami lonjakan. Minyak goreng kelas medium yang awalnya hanya 13 ribu per liter, kini melonjak hingga 21 ribu rupiah per liter, sedangkan kedelai naik dari sembilan ribu lima ratus rupiah per kilogram menjadi dua belas ribu rupiah per kilogram. Akibat hal ini ia harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan ditengah mahalnya biaya produksi.
Lebih lanjut pengusaha tempe kripik di Trenggalek, Suprapti Ningsih menyampaikan, Akibat lonjakan harga bahan baku ini ia terpaksa mengurangi jumlah produksi dan karyawan. Meski demikian ia tidak berani menaikkan harga jual, karena khawatir tidak laku. Untuk menyiasatinya, ia memilih untuk mengurangi netto penjualan di setiap kemasan yang dijual. Kondisi ini juga mengakibatkan penurunan penghasilan hingga 50%.
Suprapti juga menambahkan, biasanya pada momen menjelang bulan puasa permintaan konsumen mengalami peningkatan hingga empat kali lipat. Dari semula hanya 25 bal menjadi seharusnya bisa menjadi 100 bal . Namun karena lonjakan bahan baku ini, pihaknya hanya mampu memproduksi maksimal 50 bal saja.
Views: 270
















