TRENGGALEK, bioztv.id – Rapat paripurna terbuka, sejumlah fraksi DPRD Trenggalek soroti pencapaian pendapatan asli daerah (PAD) dan besarnya sisa lebih pembiayaan anggaran Tahun berkenaan (Silpa) pada APBD Tahun 2020. Meski demikian, sejumlah fraksi lain juga turut mengapresisasi pemerintah daerah atas pencapaian opini WTP dari BPK.
Penyampaian pandangan umum fraksi fraksi terhadap laporan keterangan pertanggung jawaban (LKPJ) APBD tahun 2020, dilakukan dalam rapat paripurna terbuka yang digelar di gedung DPRD Treggalek pada 9 Juni 2021. Dalam hal ini, 6 Fraksi yang ada di DPRD menyampaikan pandangannya masing masing.
Keenam fraksi itu meliputi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Fraksi Partai Rakyat Indonesia (PARI), Fraksi Partai Golongan Karya (GOLKAR), Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Fraksi Partai Demokrat. keenam fraksi memiliki pandangan yang berbeda-beda menyinggung LKPJ tahun anggaran 2020. Beberapa diantaranya, ada yang menyinggung pendapatan asli daerah (PAD), dampak pandemi Covid-19, hingga ada yang mengapresiasi ketika kabupaten ini masih bisa mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Pimpinan rapat pairpurna, DOding Rahmadi menyampaikan, Pandemi Covid-19 yang terjadi selama ini memang berdampak signifikan terhadap APBD. Dimana refocusing anggaran penanganan COvid-19 berdampak pada pengalihan program-program menjadi kriteria prioritas mendesak. Sehingga program-program sebelumnya yang seharusnya prioritas berakhir ditunda. Tak cukup itu, dalam LKPJ 2020 ditemukan Silpa sebesar Rp 173 Miliar (M).
Disisi lain, Fraksi PKB juga menyampaikan pandangannya terkait realisasi PAD pada tahun 2020 yang dinilai lebih rendah dari tahun 2019. Indikasinya, pada Tahun 2020 target PAD sebesar Rp 1,8 Triliun dengan realisasi sebesar 101,28 persen. Sedangkan pada 2019 senilai Rp 2,6 T dengan realisasi 96,47 persen.
Hal itu mengartikan bahwa pemerintah dapat mencapai persentase capaian PAD, namun belum mampu merealisasikan target pendapatan daerah yang sebenarnya sesuai kebutuhan masyarakat. Padahal, kebutuhan masyarakat itu makin lama makin besar, bukan mengecil. Prosentase keberhasilan target besar, tapi nilai targetnya kecil, sementara kebutuhan riilnya sangat besar.
Views: 0

















