TRENGGALEK, bioztv.id – DPC PKB Kabupaten Trenggalek memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 dengan menggelar majelis sholawatan bersama Jama’ah Lintas Jalanan Satu Tujuan (Jaljalut) Indonesia. Majelis zikir dan sholawat asuhan Gus Badar itu memeriahkan peringatan Hari Santri di pelataran Kantor DPC PKB Trenggalek.
Kegiatan bernuansa religi ini mengajak jamaah mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua DPC PKB Trenggalek, Sukarodin, menegaskan bahwa momentum HSN bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, peringatan ini menjadi ruang refleksi moral bagi seluruh elemen santri agar terus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.
“Kegiatan pada malam hari ini, kita dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional,” kata Sukarodin di sela-sela acara.
Jaljalut Indonesia Jadi Magnet
Majelis Jaljalut Indonesia yang tampil dalam acara ini menjalankan gerakan syiar keagamaan dari Pondok Pesantren Attaqwa, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.
Di bawah asuhan Gus Badar (Muchamad Badaruddin Abdulloh), majelis zikir ini dikenal karena konsisten merangkul pemuda, anak jalanan, hingga kelompok marginal dari berbagai latar belakang. Mereka mengajak berbagai kalangan bersholawat bersama.
Sukarodin mengungkapkan bahwa DPC PKB Trenggalek berencana menjadikan sholawatan bersama Jaljalut Indonesia sebagai agenda rutin setiap peringatan Hari Santri.
“Untuk sholawatan Hari Santri masih perdana, hari ini adalah yang pertama. Dan sekali lagi ini menjadi agenda rutin nanti setiap Hari Santri,” ujarnya.
Resolusi Jihad, Santri Harus Menjadi Agen Perubahan
Sukarodin mengingatkan kembali sejarah Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober. Peringatan tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pada 1945.
Ia meminta kader PKB di semua tingkatan, mulai DPC, DPAC, hingga ranting, meneladani semangat perjuangan tersebut. Ia juga mendorong para kader menjadi pelopor solusi di tengah masyarakat.
“Yang terpenting saat ini, selain mengingat hal dimaksud, tentu santri ini mesti kemudian menjadi pelopor perbaikan, sebagai agen perubahan. PKB melalui kader-kadernya di seluruh jajaran dari DPC sampai DPAC sampai Ranting akan menjadi agen perubahan,” terangnya.
Hubungan PKB dan Santri Dalam Filosofi Jawa
Sukarodin menggambarkan kedekatan kultural dan historis PKB dengan kaum santri melalui perumpamaan dalam tradisi Jawa.
“Hubungan antara PKB dan santri saya kira sama dengan suru. Suru itu wolak-walik ora padha rupane, tapi lek digigit padha rasane,” kelakar Sukarodin.
Ia juga menggunakan perumpamaan amben atau ranjang kayu dan longan atau kolong di bawah ranjang. Menurutnya, kedua bagian tersebut memiliki hubungan erat dan tidak dapat dipisahkan.
“Maknanya antara amben sama longan itu ndak bisa dipisahkan sebetulnya. Sehingga kami para santri tentu hukumnya wajib memperingati Hari Santri,” paparnya.
Santri Melek Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Menutup pernyataannya, Sukarodin mengingatkan para santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Ia mendorong santri memanfaatkan kemajuan digital untuk memperluas jangkauan dakwah tanpa meninggalkan tradisi keagamaan.
“Harapan Hari Santri tahun ini ya kita tentu merenung, kemudian sekali lagi kita mesti enggeh (tanggap) dengan perubahan zaman. Namun demikian, adanya berbagai perkembangan teknologi yang ada, yang terpenting satu: tidak meninggalkan identitas santri,” pungkasnya.(CIA)
Views: 13

















