TRENGGALEK, bioztv.id — Pemerintah Kabupaten Trenggalek kembali menggelar tradisi sakral jamasan pusaka untuk menyambut Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Tahun ini, prosesi tersebut menghadirkan nuansa berbeda.
Jajaran pelaksana tidak hanya membersihkan bilah-bilah tombak keramat. Mereka juga merawat berbagai warisan sejarah dan aset kebudayaan adiluhung daerah.
Pusaka yang mengikuti prosesi antara lain tombak, payung kebesaran atau songsong, seperangkat Gamelan Nyai Sekanti, hingga Prasasti Kamulan.
Prosesi ritual berlangsung di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Sabtu (29/8/2026). Rangkaian ini menjadi bagian penting peringatan Hari Jadi Trenggalek 2026 yang mengusung tema besar “Hambeging Bumi”.
Jajaran pelaksana menjalankan prosesi pembersihan dengan mengikuti tata cara tradisi kebudayaan Jawa. Sejumlah pejabat Pemkab Trenggalek turut hadir mendampingi ritual dengan mengenakan busana adat Jawa lengkap.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, meminta pelaksana memasukkan seluruh peranti sejarah daerah dalam agenda jamasan tahun ini.
“Agenda jamasan pusaka hari ini terbilang sangat komplit. Seluruh peranti dan pusaka daerah kita ikut dijamas,” terang Bupati yang akrab disapa Mas Ipin tersebut, Sabtu (29/8/2026).
Dari Bilah Tombak Hingga Payung Kebesaran Keraton
Prosesi jamasan tahun ini mencakup pusaka dengan bentuk, jenis, dan latar belakang sejarah yang beragam.
Kelompok pusaka berupa senjata mencakup Tumbak Kyai Korowelang dan Tumbak Kyai Wignyo Murti.
Sementara itu, kelompok pusaka peneduh atau songsong mencakup Songsong Ayom Sih, Songsong Tunggul Nogo, dan Songsong Tunggul Projo. Pemerintah juga merawat peninggalan Lambang Jwalita Praja Karana dalam prosesi tersebut.
Dua pusaka, yakni Songsong Ayom Sih dan Tumbak Kyai Wignyo Murti, memiliki sejarah istimewa. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan kedua pusaka tersebut kepada Trenggalek.
Mas Ipin menjelaskan bahwa masyarakat pada masa lalu menggunakan berbagai instrumen pusaka dalam tatanan praja untuk menjalankan fungsi yang luas.
“Kita mengoleksi Korowelang, ada juga pusaka kategori Biring,” urainya.
Menurutnya, leluhur tidak hanya menggunakan pusaka sebagai alat pertahanan fisik. Mereka juga menempatkan pusaka sebagai simbol kepemimpinan sekaligus sarana spiritual untuk mengayomi masyarakat.
Gamelan Nyai Sekanti Dijamas
Perangkat Gamelan Nyai Sekanti menjadi salah satu bagian menarik dalam prosesi jamasan kali ini.
Gamelan bersejarah tersebut tidak hanya menjadi koleksi museum. Setelah menjalani proses penyucian, petugas akan menabuh Nyai Sekanti untuk mengiringi rangkaian utama Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek.
“Besok Perangkat Gamelan Nyai Sekanti akan ditabuh untuk mengiringi jalannya seluruh rangkaian prosesi adat,” jelas Mas Ipin.
Selain mengiringi prosesi adat, lantunan Gamelan Nyai Sekanti juga akan mengiringi langgam selawat saat prosesi mahalul qiyam.
Penggunaan gamelan tersebut mempertemukan keluhuran budaya Jawa dengan nilai-nilai religius masyarakat Trenggalek.
Momentum Hari Jadi tahun ini juga bertepatan dengan Sasi Mulud atau bulan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Berhubung momen ini bertepatan dengan datangnya Sasi Mulud atau Maulid Nabi, kita ingin memanjatkan doa agar syafaat Rasulullah SAW tercurah bagi seluruh masyarakat yang bersuka cita merayakan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek,” tuturnya.
Prasasti Kamulan Jadi Jejak Sejarah yang Terus Dirawat
Selain senjata dan perangkat musik, Prasasti Kamulan menjadi artefak penting dalam rangkaian jamasan kali ini.
Prasasti tersebut memiliki nilai sejarah fundamental bagi Trenggalek. Jika tombak dan payung kebesaran merepresentasikan simbol budaya serta filosofi kepemimpinan, Prasasti Kamulan menyimpan bukti tertulis mengenai sejarah awal Trenggalek.
Prosesi jamasan ini sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat tidak boleh memaknai tradisi tersebut sebatas kegiatan membersihkan benda-benda antik.
Masyarakat dapat menjadikan agenda ini sebagai momentum untuk mengingat kembali sejarah serta memperkuat identitas kebudayaan warga Trenggalek.
Merawat Fisik Artefak, Menghidupkan Nilai Filosofis
Prosesi jamasan tahun ini kembali menunjukkan kekayaan dan keberagaman warisan budaya Kabupaten Trenggalek.
Tombak membawa filosofi kepemimpinan. Payung kebesaran menggambarkan pengayoman. Gamelan menghidupkan ritual budaya dan keagamaan. Sementara Prasasti Kamulan merekam jejak peradaban masa lalu.
Tantangan berikutnya terletak pada kemampuan pemerintah dan masyarakat mengenalkan makna seluruh warisan tersebut kepada generasi muda di era digital.
Peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek dengan spirit “Hambeging Bumi” menjadi pengingat agar masyarakat tetap menjaga akar budayanya.
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan merawat bentuk fisik benda. Masyarakat juga perlu menjaga ajaran, cerita, serta pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Dengan begitu, warisan budaya Trenggalek tetap mampu memberikan makna bagi kehidupan masyarakat saat ini hingga generasi mendatang.(CIA)
Views: 6
















