TRENGGALEK, bioztv.id — Menjelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, pemerintah daerah kembali menggelar prosesi jamasan pusaka di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Sabtu (29/8/2026).
Para pemangku adat menyucikan sejumlah pusaka peninggalan leluhur dalam prosesi adat tersebut.
Namun, bagi Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, ritual tahunan ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan tombak, payung, maupun prasasti peninggalan masa lalu.
Tradisi jamasan membawa pesan tentang kepemimpinan, amanah, tanggung jawab moral, serta kewajiban pemimpin melayani dan mengayomi masyarakat.
Salah satu pusaka yang menarik perhatian dalam prosesi tersebut ialah Tombak Korowelang.
Doding menjelaskan, pusaka legendaris itu menyimpan filosofi kepemimpinan yang masih relevan dengan tata kelola pemerintahan Trenggalek saat ini.
“Pusaka Tombak Korowelang mengandung pesan filosofis luar biasa dari para leluhur dan tokoh pendiri Kabupaten Trenggalek,” tegas Doding, Sabtu (29/8/2026).
Filosofi “Koro” dan “Welang” Jadi Dasar Kepemimpinan
Doding menjelaskan nama Tombak Korowelang memiliki dua makna utama yang berkaitan dengan tugas seorang pemimpin.
Menurutnya, istilah “koro” menggambarkan perkara atau berbagai persoalan yang masyarakat hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara “welang” berasal dari istilah piwulang yang berarti ajaran moral, pendidikan, dan keteladanan.
“Kata koro memuat ikhtiar bahwa persoalan rakyat adalah tugas utama pemimpin untuk mengurai dan menyelesaikannya. Sementara welang itu adalah piwulang atau ruang pembelajaran,” urainya.
Menurut Doding, filosofi tersebut mengingatkan pejabat publik agar tidak hanya hadir dalam agenda seremonial.
Pemimpin harus mampu membaca persoalan masyarakat dan menghadirkan solusi nyata.
Pemimpin juga harus memenuhi hak dasar masyarakat melalui pelayanan yang adil.
“Sebagai nakhoda daerah, pemimpin berkewajiban menghadirkan pembelajaran, mutu pendidikan yang layak, serta jaminan layanan kesehatan yang optimal bagi seluruh lapisan warga,” tambahnya.
Doding menilai pesan moral para leluhur tersebut dapat menjadi kompas bagi pemimpin dalam menghadapi tantangan pemerintahan modern.
“Siapa pun yang dipercaya memimpin di Trenggalek harus memfokuskan pikiran dan energinya untuk menuntaskan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Trenggalek,” cetusnya.
Payung Songsong Tunggal Hawa Bawono Simbol Pengayoman
Selain Tombak Korowelang, prosesi jamasan juga menghadirkan Payung Songsong Tunggal Hawa Bawono.
Doding memaknai pusaka berbentuk payung itu sebagai simbol kewajiban pemerintah dalam melindungi dan mengayomi seluruh masyarakat.
“Seorang pemimpin wajib menjadi payung peneduh bagi seluruh kemaslahatan masyarakat Trenggalek,” tuturnya.
Menurut Doding, pemerintah tidak boleh memberikan perlindungan secara parsial.
Pemerintah harus hadir dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga kelestarian lingkungan.
“Baik dalam urusan daya beli masyarakat, tatanan ekonomi, taraf kesehatan, hingga keberlanjutan alam, kita wajib memberikan kontribusi dan nilai kemanfaatan terbaik bagi publik,” terang Doding.
Filosofi payung tersebut menegaskan bahwa setiap kebijakan pemerintah harus mengutamakan kepentingan dan kemaslahatan masyarakat.
Jamasan Bukan Sekadar Membersihkan Pusaka
Menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek, para pemangku adat menjamas 14 pusaka daerah secara berurutan.
Para pemangku adat Jawa memimpin prosesi tersebut. Jajaran Forkopimda juga mengikuti kegiatan dengan mengenakan busana adat khas Trenggalek.
“Hari ini kita menuntaskan prosesi jamasan pusaka, yang secara harfiah bermakna membersihkan secara fisik pusaka-pusaka peninggalan sejarah Trenggalek,” kata Doding.
Namun, prosesi tersebut tidak berhenti pada pembersihan fisik pusaka.
Masyarakat dapat menjadikan jamasan sebagai momentum untuk merefleksikan sejarah, menggali kearifan lokal, dan mengingat kembali jasa para perintis daerah.
Salah satu pusaka yang menjadi bagian penting dalam sejarah Trenggalek ialah Prasasti Kamulan.
Prasasti tersebut menjadi salah satu tonggak penanggalan lahirnya Kabupaten Trenggalek.
Doding mengingatkan generasi muda agar modernisasi tidak membuat mereka melupakan akar sejarah dan budaya daerah.
“Seluruh pusaka ini membawa ajaran agar kita tidak sekali-kali melupakan akar sejarah dan jasa para leluhur pendiri daerah ini,” tandasnya.
Hambeging Bumi Jadi Pesan Menjaga Alam
Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengusung tema “Hambeging Bumi” dalam peringatan Hari Jadi ke-832 tahun 2026.
Tema tersebut mengajak masyarakat dan pemerintah meneladani karakter bumi yang kokoh, mengayomi, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.
Dalam konteks itu, jamasan pusaka menjadi ruang untuk menyelaraskan warisan sejarah, tradisi budaya, dan cita-cita pembangunan masa depan.
Doding menilai pusaka daerah tidak sekadar menjadi benda bersejarah yang tersimpan sebagai pajangan.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan untuk menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat.
“Inilah warisan pesan moral berharga yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita, yang wajib kita rawat dan jaga bersama-sama,” pungkas Doding.(CIA)
Views: 8
















