Alasan Polemik Plt Asprov, PSSI Trenggalek Tak Gelar Piala Presiden dan Ogah Kirim Tim ke Jatim

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idPolemik kepengurusan di tingkat Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur membuat Askab PSSI Trenggalek memilih tidak menggelar turnamen Piala Presiden kelompok usia U-10 dan U-12 tahun ini. Dampaknya, Askab juga memutuskan tidak mengirim satu pun tim untuk berlaga di putaran tingkat provinsi.

Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menegaskan keputusan tersebut tidak dipicu persoalan internal Askab. Sebaliknya, Askab mengambil langkah itu sebagai respons atas konflik kepengurusan yang masih membelit Asprov PSSI Jawa Timur, terutama terkait legalitas kewenangan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asprov.

Puguh menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya telah menyampaikan sikap kepada seluruh pengurus dan klub anggota Askab. Ia juga mengimbau seluruh klub agar berhati-hati menyikapi pelaksanaan kompetisi yang masih dibayangi polemik di tingkat provinsi.

“Waktu itu kami menerima masukan dan saran agar tidak menggulirkan kompetisi tersebut. Sikap kami di Askab sangat jelas. Jika ada klub lokal yang tetap ingin berpartisipasi silakan saja, tetapi Askab secara kelembagaan tidak ingin terlibat karena polemik di tingkat Asprov belum menemui titik temu,” tegas Puguh Purnomo.

Menurut Puguh, konflik di tingkat Asprov memunculkan kebingungan di kalangan pengurus daerah. Ia menilai regulasi organisasi membatasi kewenangan seorang Plt, termasuk dalam mengambil keputusan strategis terkait penyelenggaraan kompetisi resmi.

“Aturan organisasi dengan tegas membatasi ruang gerak dan kewenangan seorang Plt. Alasan itulah yang membuat kami ragu ketika Asprov tetap memaksakan kompetisi berjalan,” ujarnya.

Mayoritas Klub Belum Siap Mengoperasikan SIAP

Selain menghadapi persoalan di tingkat provinsi, Askab PSSI Trenggalek juga masih menemui kendala di tingkat daerah. Puguh mengungkapkan bahwa baru sedikit klub yang telah memiliki sekaligus mengoperasikan akun Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) secara mandiri.

Kondisi tersebut, ditambah polemik di tingkat Asprov, membuat Askab semakin mantap membatalkan penyelenggaraan Piala Presiden kelompok usia dini di tingkat kabupaten.

“Klub yang benar-benar siap mengoperasikan aplikasi SIAP jumlahnya masih sangat terbatas. Faktor ini juga memperkuat pertimbangan kami untuk tidak memaksakan kompetisi,” jelas Puguh.

Akibat keputusan tersebut, Trenggalek tidak memiliki wakil pada putaran Piala Presiden tingkat Jawa Timur. Meski demikian, Puguh mengatakan Trenggalek bukan satu-satunya daerah yang mengambil keputusan tersebut.

“Bukan hanya Askab Trenggalek yang memutuskan tidak mengirim tim. Banyak daerah lain juga mengambil langkah serupa karena mereka melihat situasi di tubuh Asprov saat itu belum kondusif,” imbuhnya.

Siapkan Forum Evaluasi dan Bahas Liga TSL

Askab PSSI Trenggalek kini menyiapkan forum bersama seluruh klub anggota dalam waktu dekat. Melalui pertemuan tersebut, Askab akan mengevaluasi berbagai persoalan sekaligus membahas percepatan penggunaan aplikasi SIAP, kesiapan perangkat pertandingan, hingga rencana pelaksanaan Liga Trenggalek Soccer League (TSL).

Puguh memastikan setiap ketua bidang akan memaparkan laporan pertanggungjawaban serta program kerja secara terbuka di hadapan seluruh klub anggota.

“Nanti bidang kompetisi akan menjelaskan seluruh agenda turnamen ke depan, bidang perwasitan memaparkan rencana penyegaran wasit, begitu juga bidang lainnya. Harapan kami, forum ini melahirkan sistem yang lebih sehat demi kemajuan sepak bola Trenggalek,” pungkas Puguh.

Rencana Askab mengumpulkan seluruh klub muncul di tengah sorotan publik terhadap tata kelola sepak bola Trenggalek. Dalam beberapa pekan terakhir, perhatian publik juga tertuju pada sengketa administrasi data pemain di aplikasi SIAP yang melibatkan Askab PSSI Trenggalek dan SSB Shrimp Army.(CIA)

Views: 9