TRENGGALEK, bioztv.id – Di tengah tantangan modernisasi, dari 157 Desa dan Kelurahan se Trenggalek, Desa Karang Anom, Kecamatan Durenan, membuktikan bahwa semangat gotong royong masih hidup. Desa ini berhasil masuk tiga besar Lomba Gotong Royong Terbaik se-Jawa Timur 2025, bersaing dengan perwakilan dari Madiun dan Bojonegoro.
Sesuai tahapan, saat ini ketiga desa yang masuk kategori Lomba Gotong Royong Terbaik tersebut, kini tengah mengikuti tahap penilaian lapang. Selanjutnya, akan ditentukan juara 1, 2, dan 3.
Bukan Sekadar Juara, Tapi Warisan Nilai Budaya
Namun di balik euforia nominasi itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Trenggalek, Edy Soepriyanto, justru mengingatkan bahwa yang paling penting bukan sekadar menang lomba, tapi bagaimana gotong royong benar-benar diterapkan di kehidupan sehari-hari.
“Jangan hanya kejar juara. Yang utama itu tindak lanjutnya, penerapan nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat. Itu yang lebih penting,” tegas Edy saat menyambut tim penilai lapangan, Selasa (6/5/2025).
Edy menilai, di era serba canggih saat ini, budaya gotong royong mulai terpinggirkan. Dulu masyarakat punya sistem ronda malam, sekarang digantikan CCTV. Padahal, menurutnya, nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial itu tak bisa sekadar diganti teknologi.
“Penilaian ini jadi pemicu bahwa gotong royong itu masih ada dan memang harus terus kita jaga. Bukan soal fasilitas, tapi soal perubahan generasi. Ini tugas kita menanamkan kembali nilai-nilai luhur itu ke anak-anak kita,” imbuhnya.
Lebih jauh, Edy berharap keberhasilan Karang Anom ini bisa jadi contoh bagi desa-desa lain di Trenggalek. “Setiap tahun kita ikut lomba ini. Alhamdulillah terus jadi kontestan. Mudah-mudahan bisa jadi model yang bisa direplikasi ke desa-desa lain,” tutupnya.
Gotong Royong: Budaya Langka di Tengah Globalisasi
Ketua Tim Penilai Lapangan, Tri Yuono, yang juga Kabid Kemasyarakatan Desa Dinas PMD Jatim, mengakui budaya gotong royong di masyarakat saat ini makin jarang ditemui. Menurutnya, situasi ini dipicu oleh faktor kompleks, mulai dari modernisasi, globalisasi, hingga pergeseran nilai antar generasi.
“Gotong royong itu bukan sekadar kerja bakti. Di situ ada nilai, norma, dan kultur yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, generasi sekarang banyak yang kurang tertarik dengan nilai-nilai seperti ini,” ungkap Tri.
Ia menambahkan, dalam penilaian lomba, timnya tidak hanya melihat data di atas kertas, tapi juga membuktikan langsung di lapangan.
“Kadang ada desa yang tidak mencatat program, tapi prakteknya jalan. Itu justru kita apresiasi, karena berarti memang hidup di masyarakat,” tandasnya.
Tri pun berterima kasih kepada Desa Karang Anom dan kontestan lainnya yang masih menjaga dan melestarikan gotong royong di daerah masing-masing.
“Desa-desa seperti inilah yang patut didukung agar nilai-nilai kearifan lokal tidak benar-benar punah ditelan zaman,” tandasnya.(CIA)
Views: 20
















