Dampak Tanah Gerak Porak-Porandakan Permukiman, Warga Ngrandu Tak Mau Lagi Kembali Ke Rumah

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Bencana tanah gerak kembali melanda Kabupaten Trenggalek, tepatnya di Dusun Depok, Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh. Pergerakan tanah yang terus terjadi sejak Minggu malam (15/12) memaksa warga tinggalkan rumah mereka. Kondisi pergerakan tanah yang belum berhenti, membuat warga trauma dan tak mau lagi kembali ke rumahnya.

Kepala Desa Ngrandu, Suparni, menjelaskan bahwa bencana ini diawali suara gemuruh. Saat itu warga setempat mendengar suara gemuruh  yang menggema, setelah dicek keluar rumah, tanah di sekitar permukiman sudah penuh retakan besar.

“Rumah-rumah warga juga mengalami kerusakan parah, bahkan beberapa di antaranya sudah miring,” ujar Suparni.

Dari data yang dihimpun, sebanyak 38 rumah 43 KK dan 119 jiwa harus meninggalkan rumahnya dan mengungsi. Dari 119 jiwa ini ada warga yang mengungsi di kerabat terdekat dan ada yang dirumah saudaranya.

Beberapa warga da yang mengungsi di desa Desa Puru, dan Desa Wonokerto Kecamatan Suruh. Selain itu ada juuga yang mengungsi ke Desa Pringapus dan Desa sumberbening, Kecamatan Dongko. Namun, mayoritas warga masih mengungsi di daerah Desa Ngrandu. Terlebih kondisi retakan tanah ini meluas sepanjang radius 200 meter, dengan kondisi terparah di bagian atas tebing

“Kami segera meminta warga yang rumahnya rusak parah untuk mengungsi dan mengeluarkan barang-barang berharga mereka,” tambahnya.

Ancaman Lama yang Terabaikan

Menurut Suparni, pergerakan tanah ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak dua tahun lalu. Saat itu, retakan sepanjang 200 meter mulai terlihat mengarah ke barat. Namun, retakan itu sempat berhenti dan baru terjadi lagi sejak beberapa hari lalu. Kondisi saat ini semakin mengkhawatirkan karena retakan terus bertambah meski cuaca sedang tidak hujan.

“Apalagi kalau hujan, pergerakan tanah semakin aktif dan mengancam keselamatan warga,” imbuhnya.

Tidak hanya merusak rumah, bencana ini juga memutus akses jalan yang menghubungkan antar-desa dan antar-kecamatan.

“Akses jalan satu-satunya harus melewati area terdampak tanah gerak,” jelas Suparni.

Trauma Mendalam bagi Warga

Salah satu warga terdampak, Yeni Yuliawati (23), mengungkapkan kesedihannya setelah harus meninggalkan rumah yang telah hancur.

“Tembok dan lantai rumah rusak parah. Semua barang sudah saya ungsikan. Saya tidak akan kembali lagi karena rumah sudah tidak bisa ditempati,” ujarnya dengan nada lirih.

Yeni mengaku, sejak retakan pertama muncul 2 tahun lalu, ia sudah sempat mengungsi. Namun, pergerakan tanah kali ini jauh lebih parah dan membuatnya trauma.

“Saya tidak tahu harus tinggal di mana sekarang. Yang pasti, saya tidak berani kembali lagi ke rumah,” tambahnya.

Langkah Tanggap Darurat Diperlukan

Bencana tanah gerak yang melanda Dusun Depok bukan hanya persoalan bagi warga terdampak, tetapi juga menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah tanggap darurat. Selain mengevakuasi warga, perbaikan infrastruktur dan penanganan jangka panjang sangat diperlukan untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

“Situasi seperti ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat membantu mencari solusi terbaik bagi warga,” tutup Suparni.(CIA)

Views: 4