TRENGGALEK, bioztv.id – Meskipun sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi Trenggalek, masalah regenerasi petani muda mengancam masa depan pertanian di wilayah ini. Pasalnya, tingkat regenerasi petani muda yang berusia di bawah 35 tahun hanya 8,3%. Kondisi ini membuat masa depan sektor pertanian di Trenggalek tidak baik baik saja.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Trenggalek, Emil Wahyudiono, mengungkapkan kekhawatiran ini dengan menyebutkan bahwa dominasi petani berusia lanjut berisiko menghambat perkembangan sektor pertanian.
“Ini adalah tantangan besar yang kita hadapi untuk masa depan pertanian,” ujar Emil.
Menurutnya, bonus demografi Indonesia yang diprediksi akan habis sekitar 2030-2031 seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong produktivitas pertanian. Namun, hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan mayoritas petani di Trenggalek masih berusia di atas 55 tahun.
“Data menunjukkan, sebanyak 49,77% petani kita berusia 55 tahun ke atas, dan hanya sekitar 8,3% yang berusia di bawah 35 tahun,” jelasnya.
Emil menilai bahwa minimnya petani muda disebabkan oleh pandangan lama bahwa pertanian adalah pekerjaan yang berat, kotor, dan kurang menarik. Menurutnya, upaya menarik minat generasi muda harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern, seperti urban farming, yang cenderung lebih praktis dan tidak terlalu ‘berbecek-becek’.
“Pertanian sering dianggap ‘repot dan kotor’. Tetapi dengan urban farming, generasi muda bisa lebih tertarik karena lebih mudah diakses dan bisa diterapkan bahkan di lingkungan perkotaan,” tambahnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya adopsi teknologi dalam pertanian untuk meningkatkan daya saing internasional. Teknologi modern mampu memudahkan dan meningkatkan produktivitas, namun adaptasinya di kalangan petani berusia tua relatif lambat.
“Jika adaptasinya lambat, bisa menjadi salah satu faktor yang membuat produk pertanian lokal sulit bersaing di pasar internasional,” tegas Emil.
Emil juga menyoroti lambatnya adopsi teknologi di kalangan petani berusia lanjut sebagai tantangan dalam menghadapi persaingan global.
“Ketika struktur petani didominasi usia tua, adopsi teknologi menjadi lebih lambat, dan ini mengurangi daya saing kita dibandingkan negara lain yang cepat beradaptasi,” jelas Emil.
Dirinya berharap agar generasi muda dapat mengambil peran dalam memperkuat sektor pertanian di Trenggalek, salah satunya melalui pendekatan yang inovatif dan berteknologi tinggi.
“Jika anak-anak muda tidak mau turun ke sektor ini, kita kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan potensi yang ada,” ungkapnya.
Ke depan, BPS Trenggalek bersama pemangku kebijakan berharap adanya strategi kolaboratif yang dapat mendorong minat generasi muda untuk turut serta mengelola sektor pertanian yang berkelanjutan dan berbasis teknologi.
“Regenerasi petani adalah kunci agar pertanian kita tetap relevan dan bisa bersaing,” pungkas Emil (CIA)
Views: 2
















