BLITAR, bioztv.id – Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) di kabupaten Blitar, Jawa Timur Sukses dukung pengembangan desa inklusi toleransi beragama. Yakni sebuah program yang digagas Pemerintah Desa Balerejo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.
Setiyoko, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam program ini, menegaskan pentingnya toleransi beragama di Indonesia. Tujuannya, menciptakan lingkungan yang harmonis dan toleran di tengah masyarakat yang beragam. Sehingga ia memilih untuk terlibat aktif dalam analisis situasi dan implementasi program yang digagas Pemdes Balerejo ini.
“Toleransi beragama bukan hanya tentang hidup berdampingan dengan damai, tetapi juga mencakup penghargaan dan penerimaan terhadap perbedaan keyakinan yang ada,” ujarnya.
Desa Balerejo, yang berada di ketinggian 600 mdpl dan memiliki populasi 3.806 jiwa, terdiri dari berbagai pemeluk agama, termasuk Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik. Meskipun masyarakat hidup berdampingan dengan damai, potensi konflik dan kesalahpahaman tetap ada.
“Kurangnya pemahaman dan sosialisasi mengenai toleransi beragama dapat memicu konflik kecil yang berpotensi merusak kerukunan,” tambah Setiyoko.
Program ini bertujuan untuk mengatasi beberapa masalah utama yang diidentifikasi di Desa Balerejo. Problem tersebut, yang pertama terkait Kurangnya Pemahaman tentang Toleransi Beragama. Solusinya, bisa dimulai dengan kegiatan seminar dan lokakarya edukasi.
“Tema seminar & Edukasi fokus tentang nilai-nilai toleransi beragama dan keberagaman budaya,” imbuhnya.
Problem kedua yang harus dituntaskan terkait potensi Konflik dan Kesalahpahaman. Solusinya, bisa ditangani dengan cara membentuk forum dialog antar umat beragama.
“Tujuannya untuk membahas isu-isu relevan dan mencari solusi bersama,” jelas Setiyoko.
Sesuai hasil identifikasi masalah, problem ketiga yakni, terkait Keterbatasan Fasilitas dan Kegiatan Penunjang Toleransi Beragama.
“Solusinya bisa dengan cara membangun atau mengoptimalkan ruang publik untuk kegiatan bersama, seperti balai desa atau lapangan terbuka,” ujarnya.
Problem Keempat yaitu terkait Sikap Eksklusif dalam Kelompok Agama. Solusinya bisa diatasi dnegan mengadakan kegiatan sosial dan budaya yang melibatkan semua kelompok agama.
“seperti gotong royong, festival seni dan budaya, serta kegiatan lain yang melibatkan banyak pihak,” tegas Setiyoko.
Sedangkan problem yang kelima berupa Pengaruh Eksternal yang Dapat Memperkeruh Keadaan. Solusi problem ini bisa ditangani dengan cara membuat tim monitoring untuk mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat atau provokatif.
“Pemberantasan informasi Hoax sangat penting dan membutuhkan keterlibatan dan kesadaran banyak pihak,” imbuhnya.
Setiyoko mengungkapkan beberapa langkah strategis yang akan dilakukan untuk mewujudkan desa inklusi toleransi beragama, antara lain, yang pertama “Program Interaksi Antar Umat Beragama”. Program ini bisa dijalankan dengan cara mengadakan kegiatan gotong royong dan acara budaya yang melibatkan berbagai kelompok agama.
Langkah strategis kedua yaitu “Komunikasi dan Dialog”. Langkah ini bisa dijalankan dengan cara membentuk forum dialog rutin dan melibatkan pemuka agama untuk memberikan pandangan yang mendalam tentang toleransi.
Langkah ketiga dengan cara memberikan “Fasilitas dan Kegiatan Penunjang”. Yakni dengan membangun ruang publik dan mengadakan kegiatan rutin yang melibatkan semua kelompok agama.
Langkah keempat, yaitu memupuk “Kesadaran akan Sikap Inklusif”. Caranya, dengan melakukan kampanye kesadaran melalui media sosial dan kegiatan publik.
Sedangkan yang kelima adalah “Kolaborasi dengan Pihak Eksternal”. Program ini bisa dijalankan dengan cara bekerja sama dengan komunitas masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi keagamaan untuk mendapatkan dukungan dan sumber daya tambahan.
Program ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat yang baik bagi masyarakat luas, seperti peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang toleransi beragama, penguatan hubungan antar umat beragama, pengurangan potensi konflik, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan penguatan identitas serta citra desa.
“Desa Balerejo bisa menjadi model bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan inklusi dan toleransi beragama,” pungkas Setiyoko.
Dengan implementasi solusi-solusi ini, diharapkan Desa Balerejo dapat berkembang menjadi model desa inklusi toleransi beragama yang harmonis dan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia.(CIA)
Views: 2
















