BLITAR, bioztv.id – Di sudut Dusun Bendelonje, Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, sebuah pemandangan berbeda tersaji selepas Salat Jumat. Ketika para jamaah sholat jumat beranjak keluar dari Masjid Mustajabud Da’awad, sekelompok lansia justru berbondong-bondong menuju masjid.
Mereka adalah para janda sepuh yang mengikuti Pondok Ramadan Lansia Al-Mawaddah, sebuah program unik yang menghadirkan kebahagiaan bagi mereka di usia senja. Tak hanya datang untuk beribadah, mereka juga bercengkerama dengan sesama, berbagi kisah hidup, dan mendalami ilmu agama.
Di bawah rintik hujan, sebagian di antara mereka terlihat sibuk mengangkat jemuran di sebelah surau berdinding anyaman bambu. Beberapa lainnya mengambil air wudu, bersiap menjalani hari dengan kegiatan yang sarat makna.
Sejak didirikan pada 2010, Pondok Ramadan Lansia ini telah menjadi rumah kedua bagi para janda lansia, baik dari Kabupaten Blitar maupun luar daerah. Tahun ini, sebanyak 65 peserta turut serta dalam program yang berlangsung selama 12 hari tersebut. Selain memperdalam ilmu agama, mereka juga mengikuti berbagai aktivitas seperti senam pagi, membaca Al-Qur’an, dan permainan edukatif.
Tradisi yang Terjaga, Tempat yang Semakin Nyaman
Sri Banun, salah satu pengelola Pondok Ramadan Lansia, menceritakan awal mula berdirinya pondok ini. Awalnya, kegiatan dilakukan di rumah saudaranya dengan jumlah peserta hanya 23 orang. Seiring waktu, kebutuhan akan ruang yang lebih luas semakin mendesak. Atas saran dan dukungan Takmir Masjid Mustajabud Da’awad, akhirnya masjid tersebut diperbolehkan menjadi tempat belajar dan beribadah bagi para lansia.
“Kami melihat banyak janda lansia yang ingin tetap menimba ilmu agama, tapi terkendala tempat dan kenyamanan. Akhirnya, dengan persetujuan takmir masjid, kami mulai mengadakan pondok Ramadan ini secara rutin,” ungkap Sri Banun.
Sri Banun juga mengungkapkan jika kegiatan pondok Ramadan lansia ini sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi COVID-19. Namun, setelah kondisi membaik, antusiasme para lansia untuk kembali mondok justru semakin tinggi.
Mengisi Hari dengan Ibadah dan Kebersamaan
Salah satu peserta, Istiqomah (64), tampak khusyuk membaca Al-Qur’an di teras rumah panggung yang digunakan sebagai tempat istirahat para jemaah. Ibu lima anak dan nenek delapan cucu asal Selopuro, Blitar ini mengaku senang bisa kembali mengikuti pondok Ramadan.
“Saya sudah dua kali ikut mondok di sini. Rasanya senang, bahagia, banyak teman, dan semakin semangat mengaji,” tutur Istiqomah dengan senyum mengembang.
Selain tadarus dan pengajian, para peserta juga diajak untuk mengikuti senam pagi agar tubuh tetap bugar. Para guru dari PGTK Muslimat juga kerap mengadakan permainan sederhana untuk menghibur mereka.
Fasilitas yang tersedia di pondok pun cukup memadai. Rumah panggung berdinding anyaman bambu yang disebut ‘angkring’ menjadi tempat tidur bagi para peserta. Bagian dalam rumah mampu menampung delapan orang, sementara terasnya bisa digunakan untuk lima orang lagi.
Dengan kebersamaan dan semangat belajar yang tinggi, Pondok Ramadan Lansia Al-Mawaddah menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk terus mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi para janda sepuh ini, Ramadan bukan sekadar bulan suci, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan dan mengisi hari tua dengan kebahagiaan.(CIA)
Views: 5
















