Hari Jadi ke-832 Trenggalek, Tumpeng Nasi Raksasa Hilang Ganti Tumpeng Kecil Kiriman Dapur MBG

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idPemkab Trenggalek mengubah wajah puncak Hari Jadi ke-832 pada Senin (31/8/2026). Tahun ini, pemerintah tidak lagi menempatkan tumpeng nasi raksasa sebagai simbol utama perayaan.

Sebagai gantinya, gunungan sayuran segar, hasil bumi lokal, dan puluhan tumpeng kecil memenuhi halaman Pendopo Manggala Praja Nugraha. Warga pun langsung berebut sajian tersebut hingga ludes sebelum seluruh rangkaian doa selesai.

Perubahan itu bukan sekadar urusan tampilan. Pemkab Trenggalek sengaja mengangkat hasil pertanian sebagai simbol utama untuk menerjemahkan tema “Hambeging Bumi”.

Para petani mengarak hasil panen mereka dalam barisan Bergodo Tani. Mereka membawa kacang panjang, terung, dan berbagai komoditas pertanian menggunakan cikar tradisional.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan pemerintah memang menyiapkan seluruh sajian tersebut untuk masyarakat.

“Kalau melihat urutan prosesi, tadi memang belum selesai didoakan tetapi sudah dipurak oleh masyarakat. Namun itu sama sekali tidak masalah,” kata Mas Ipin.

Menurutnya, masyarakat memang menjadi tujuan utama pembagian hasil bumi tersebut.

“Memang tujuan utama kita menyediakan itu semua demi menebar keberkahan bagi masyarakat,” ujarnya.

Tumpeng Raksasa Berganti Gunungan Sayuran

Perubahan paling mencolok terlihat dari bentuk gunungan yang menghiasi halaman pendopo.

Jika sebelumnya tumpeng nasi raksasa menjadi ikon utama, tahun ini Pemkab Trenggalek menampilkan gunungan sayuran. Namun, Mas Ipin memastikan unsur nasi tetap berada di dalam gunungan tersebut.

“Iya, bagian dalamnya tetap nasi, lalu bagian luarnya kita balut dengan susunan sayuran,” jelasnya.

Pemkab Trenggalek juga menyiapkan sejumlah tumpeng kecil untuk masyarakat. Sejumlah dapur MBG atau SPPG di Trenggalek ikut mengirimkan tumpeng tersebut.

Bagi masyarakat, berebut gunungan bukan sekadar mencari makanan gratis. Tradisi itu melekat dengan keyakinan tentang berkah dan keselamatan.

Mas Ipin justru melihat antusiasme warga sebagai bagian dari kebahagiaan perayaan.

“Selama masyarakat merasa senang dan bahagia hari ini, kami di jajaran pemerintahan pun ikut merasakan kebahagiaan yang sama,” tuturnya.

Bergodo Tani Membawa Hasil Panen ke Tengah Kirab

Pemkab Trenggalek juga mengubah posisi petani dalam perayaan Hari Jadi tahun ini.

Petani tidak hanya berdiri sebagai penonton di pinggir jalan. Mereka masuk ke dalam barisan Bergodo Tani dan membawa hasil panen langsung ke tengah kirab.

Sebagian petani membawa ikatan kacang panjang. Kelompok lainnya mengangkut terung menggunakan cikar tradisional.

“Kita bisa melihat Bergodo Tani berbaris di bagian belakang. Ada yang menuntun cikar, memboyong kacang panjang, hingga mengangkut terung,” kata Mas Ipin.

Antusiasme petani bahkan membuat jumlah peserta melampaui kapasitas kendaraan yang panitia siapkan.

Mas Ipin mengaku melihat langsung aktivitas para petani pada malam sebelum puncak Hari Jadi.

“Hampir seluruh perwakilan petani mengekspresikan keinginan kuat untuk ikut dan terlibat langsung,” ungkapnya.

Namun, di balik semangat tersebut, para petani menghadapi persoalan yang jauh lebih serius: krisis air.

“Di situasi musim seperti saat ini, kondisi mereka sangat kritis karena membutuhkan pasokan air untuk menjaga kelangsungan sawah,” ujar Mas Ipin.

Sedekah Hasil Bumi di Tengah Krisis Air

Para petani datang membawa hasil bumi ketika sebagian sawah mereka justru menghadapi kekurangan air.

Situasi itu membuat sedekah hasil panen dalam prosesi Hari Jadi memiliki makna yang lebih dalam. Para petani tidak hanya membagikan hasil bumi, tetapi juga menitipkan harapan agar hujan segera turun dan sawah kembali produktif.

“Semoga Allah menjawab sedekah para petani. Kita berdoa agar persawahan kita yang saat ini menderita kekurangan air bisa segera dialiri dan hidup kembali,” kata Mas Ipin.

Pemkab Trenggalek juga mengejar solusi teknis. Pemerintah mempercepat pembangunan sumur dalam di sejumlah kawasan yang menghadapi kekeringan.

“Saat ini Pemkab Trenggalek sedang mengebut pembangunan sumur-sumur dalam di daerah rawan,” tegasnya.

Namun, sumur dalam tidak sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan air dalam skala besar. Karena itu, pemerintah dan petani tetap berharap hujan segera turun.

“Selebihnya tentu kita serahkan penuh kepada kehendak Yang Maha Kuasa,” imbuh Mas Ipin.

Ia pun berharap hujan segera mengguyur Trenggalek.

“Semoga Allah segera mengaruniakan rezeki berupa curahan hujan yang membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi kita semua,” tuturnya.

Dari Bergodo Tani Muncul Gagasan Sawah Abadi Bebas Pajak

Keterlibatan besar petani dalam Hari Jadi ke-832 Trenggalek ikut mendorong Mas Ipin mengungkap gagasan baru soal perlindungan sawah.

Bupati menyinggung penataan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B di tengah ancaman alih fungsi lahan pertanian dan penerapan Lahan Sawah Dilindungi atau LSD.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya melarang petani mengalihfungsikan sawah tanpa memberikan keuntungan yang sepadan.

Karena itu, Mas Ipin memperkenalkan konsep “Sawah Abadi”.

Konsep tersebut akan mengunci lahan tertentu agar tetap menjalankan fungsi pertanian dan tidak berubah menjadi kawasan bangunan.

“Jika suatu kawasan lahan sawah sudah kita patok tidak boleh dialihfungsikan menjadi bangunan, maka saya akan menamakannya sebagai Sawah Abadi,” tegasnya.

Mas Ipin bahkan mengusulkan insentif berupa pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan atau PBB bagi pemilik lahan yang masuk kategori Sawah Abadi.

“Saya minta dalam pasal Perda yang sedang kita susun nanti melampirkan aturan tegas: sawah yang masuk kategori Sawah Abadi tidak boleh dikenakan pajak bumi sama sekali,” paparnya.

Artinya, pemerintah tidak cukup hanya meminta petani menjaga lahan pangan. Pemerintah juga harus memberikan kompensasi nyata atas keputusan petani mempertahankan sawahnya.

“Alias kita gratiskan dari segala bentuk pajak darat atas lahan tersebut,” lanjut Mas Ipin.

Jika konsep itu benar-benar masuk regulasi, Sawah Abadi bukan sekadar slogan Hari Jadi. Kebijakan tersebut bisa menjadi instrumen untuk menjaga lahan pertanian sekaligus meringankan beban petani.

Hambeging Bumi Bertemu Nuansa Maulid

Pemkab Trenggalek tetap mempertahankan rangkaian tradisi leluhur dalam peringatan Hari Jadi ke-832. Namun, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan warna spiritual tambahan.

Panitia memasukkan pembacaan Mahalul Qiyam dalam prosesi adat. Pemerintah juga membagikan 11 ribu kantong udik-udik kepada masyarakat.

“Bertepatan dengan hadirnya bulan Maulid, kita memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah di dalam sanubari kita,” kata Mas Ipin.

“Makanya kita menyisipkan pembacaan Mahalul Qiyam di tengah prosesi adat, lalu menyempurnakannya dengan tradisi menyebar udik-udik kepada warga,” tambahnya.

Pemkab Trenggalek juga menerjemahkan Hambeging Bumi melalui tindakan langsung. Para pimpinan daerah berjalan kaki mengikuti rute kirab. Sebagian pejabat bahkan melepas alas kaki dan berjalan di atas aspal yang panas.

“Kita berusaha menyerap sifat dasar bumi, yaitu kembali membumi dan menyatu dengan tanah,” ujar Mas Ipin.

Bagi Mas Ipin, pengalaman berjalan tanpa alas kaki dapat menjadi refleksi bagi pejabat tentang beratnya perjuangan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.(CIA)

Views: 6