TRENGGALEK, bioztv.id — Kesenian jaranan khas Kabupaten Trenggalek, Turonggo Yakso, terus berkembang dan semakin dikenal hingga luar Pulau Jawa. Namun, di tengah kreativitas pertunjukan yang semakin modern, pelaku seni lokal justru mengkhawatirkan lunturnya identitas dan karakter asli kesenian tersebut.
Agus Priyo Utomo, pelaku seni Turonggo Yakso sekaligus putra Muan, salah satu tokoh kunci penggagas kesenian tersebut, menyoroti hilangnya sekitar 50 persen gerakan pakem Turonggo Yakso dari panggung pertunjukan.
Di satu sisi, Agus mengapresiasi kreativitas seniman muda yang membuat Turonggo Yakso semakin atraktif dan diminati berbagai daerah.
“Melihat dinamika masa sekarang, perkembangan Turonggo Yakso memang sangat luar biasa. Seni ini hadir di mana-mana, bahkan gaungnya sudah menembus luar Pulau Jawa,” beber Agus.
Agus mengaku kerap menerima pesanan properti tari Turonggo Yakso dari luar Jawa, termasuk dari Papua dan Kalimantan.
Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan kuatnya daya tarik Turonggo Yakso. Namun, ia mengingatkan seniman agar popularitas tidak memutus akar pakem kesenian asli.
Kreativitas Boleh Berkembang, Pakem Jangan Hilang
Agus memahami bahwa seniman membutuhkan inovasi agar seni tradisi tetap hidup dan mampu menarik minat generasi milenial serta Gen Z.
Namun, ia meminta para seniman tetap menjaga koridor dasar Turonggo Yakso saat mengembangkan koreografi.
“Perkembangan koreografi kita memang sangat pesat, tetapi dampaknya kita hampir lupa akar. Estimasi saya, sekitar 50 persen gerakan pakem asli itu sudah pudar,” keluhnya.
Bagi Agus, pakem bukan sekadar rangkaian gerakan tari.
Pakem menjadi identitas utama yang membedakan Turonggo Yakso dengan kesenian jaranan dari daerah lain.
Agus menegaskan dirinya tidak menolak kreativitas. Ia justru menganggap pembaruan sebagai modal penting untuk menjaga kesenian tetap hidup.
Namun, ia meminta setiap modifikasi gerakan tetap berpijak pada karakter dasar Turonggo Yakso.
“Ke depan kita bebas berkreasi sebalap apa pun, tetapi tolong jangan tinggalkan pakem dasarnya terlalu jauh,” imbaunya.
Pembinaan Seniman Dinilai Mendesak
Agus juga meminta pemerintah daerah tidak hanya menjadikan Turonggo Yakso sebagai materi festival atau tontonan seremonial.
Menurutnya, pemerintah perlu membangun pembinaan teknis secara berkelanjutan dengan melibatkan para praktisi dan pelaku seni.
“Hal mendesak yang kita butuhkan saat ini adalah pembinaan terstruktur. Kalau kita ingin kesenian ini berkembang benar, pembinaannya harus menyentuh akar,” jelas Agus.
Ia menilai forum pembinaan berkala dapat mempertemukan maestro senior dengan generasi muda.
Melalui forum tersebut, para pelaku seni bisa meneruskan pengetahuan mengenai filosofi gerakan, karakter tarian, hingga ritual dan pakem Turonggo Yakso.
Dongko Pernah Jadi Pelopor Jaranan di Sekolah
Agus juga mengenang upaya Kecamatan Dongko dalam mengenalkan jaranan kepada generasi muda.
Sekitar 2019, sekolah-sekolah di Kecamatan Dongko rutin memasukkan kegiatan jaranan dalam aktivitas siswa.
“Di Dongko itu hampir seluruh sekolah punya kegiatan jaranan. Bahkan pada 2019 lalu, setiap hari Jumat, kegiatan senam pagi di sekolah digantikan dengan menari jaranan bersama,” kenangnya.
Agus sendiri mengenal dunia jaranan sejak duduk di sekolah dasar. Ia juga aktif mengikuti Festival Jaranan.
Namun, ia menilai pola pembiasaan budaya seperti di Dongko belum berjalan merata di seluruh kecamatan di Trenggalek.
“Di Dongko pembiasaannya sudah sejalan, sementara di wilayah Trenggalek lainnya mungkin baru berjalan parsial,” ungkap Agus.
Dorong Legalitas Turonggo Yakso sebagai Warisan Trenggalek
Selain mengingatkan pentingnya menjaga pakem, Agus juga mendorong pemerintah memperkuat status hukum Turonggo Yakso sebagai warisan budaya Kabupaten Trenggalek.
Ia menyebut Padepokan Seni Purwo Budoyo sudah mengajukan pendaftaran sejak 2024. Namun, hingga kini pihaknya belum mendapat kejelasan mengenai perkembangan pengajuan tersebut.
“Pihak Purwo Budoyo sudah pernah mendaftarkan berkas pengusulannya pada 2024. Tapi sampai sekarang kami belum mendapat kejelasan respons atau perkembangannya,” ujarnya.
Menurut Agus, pemerintah perlu memperkuat legalitas Turonggo Yakso atas nama Kabupaten Trenggalek untuk melindungi warisan budaya tersebut.
“Jika dipatenkan secara resmi atas nama Kabupaten Trenggalek, itu langkah yang sangat bagus. Walaupun kami keluarga pencipta, kalau dipatenkan atas nama daerah Trenggalek, tujuannya sama saja untuk menjaga warisan ini,” tegasnya.
Festival Turonggo Yakso Jangan Sekadar Memakai Nama
Agus juga memberikan catatan terhadap penyelenggaraan Festival Turonggo Yakso di Trenggalek.
Ia menegaskan kritik tersebut bukan berarti menolak seniman dari luar daerah tampil di Trenggalek.
Menurutnya, seniman dari Kediri, Tulungagung, Malang, maupun daerah lain tetap boleh ikut memeriahkan festival.
Namun, mereka harus membawakan karakter dan pakem Turonggo Yakso jika festival menggunakan nama kesenian tersebut.
“Jika tajuk festivalnya adalah Festival Turonggo Yakso, maka dari mana pun pesertanya berasal—baik Kediri, Tulungagung, maupun Malang—tarian yang dibawakan wajib berpakem Turonggo Yakso,” tegasnya.
Agus membandingkan konsistensi tersebut dengan Reog Ponorogo.
Menurutnya, masyarakat tetap mengenali identitas Reog ketika seniman mementaskannya di berbagai daerah.
Ia berharap Trenggalek memiliki ketegasan yang sama dalam menjaga identitas Turonggo Yakso.
Perbanyak Workshop, Jangan Hanya Panggung Festival
Untuk menjaga kesinambungan tradisi, Agus mendorong pemerintah memperbanyak workshop dan sarasehan budaya.
Menurutnya, kegiatan tersebut lebih efektif untuk mempertemukan maestro pemegang sejarah dengan koreografer dan seniman muda.
Melalui workshop, generasi muda dapat mempelajari langsung sejarah, filosofi, karakter gerakan, dan pakem Turonggo Yakso.
Dengan begitu, festival tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga menjadi ruang transfer pengetahuan antar-generasi.
Bagi Agus, masyarakat tidak bisa mengukur kejayaan Turonggo Yakso hanya dari jumlah panggung atau luas wilayah yang mengenalnya.
Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat Trenggalek menjaga identitas asli kesenian tersebut di tanah kelahirannya.
“Untuk seluruh pecinta dan seniman Turonggo Yakso, mari kita bergandengan tangan, melangkah bersama menjunjung tinggi kebudayaan kita sendiri,” tutupnya.
Pesan Agus menjadi pengingat di tengah semakin luasnya popularitas Turonggo Yakso.
Ketika kesenian lokal berhasil menembus berbagai daerah, tantangan berikutnya bukan hanya memperluas panggung.
Trenggalek juga harus memastikan modernisasi tidak mengikis akar tradisi.
Sebab, semakin jauh Turonggo Yakso melangkah, semakin penting masyarakat menjaga identitas yang membuat kesenian ini lahir dan tumbuh di Trenggalek.(CIA)
Views: 4
















