TRENGGALEK, bioztv.id – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Trenggalek resmi mengawali operasional penuh. Setelah menggelar open house, pengelola langsung memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Sabtu (1/8/2026) sebagai awal kegiatan belajar mengajar.
Di tengah dimulainya aktivitas sekolah, pengelola masih menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah. Hingga kini, Kementerian Sosial RI belum menerbitkan Surat Keputusan (SK) bagi sejumlah wali asuh dan wali asrama sehingga mereka belum dapat menjalankan tugas secara definitif.
Kepala SRT 1 Trenggalek, Yogyantoro, memastikan persoalan administrasi tersebut tidak mengganggu proses pembelajaran. Pihak sekolah menjadwalkan MPLS hingga 15 Agustus, kemudian melanjutkan program matrikulasi mulai 18 Agustus sampai 30 September 2026.
“Kami menggelar kegiatan MPLS mulai 1 Agustus hingga 15 Agustus. Setelah itu, anak-anak akan langsung mengikuti program matrikulasi dari 18 Agustus sampai 30 September,” terang Yogyantoro.
Sekolah Libatkan Personel Tagana
Keterlambatan penerbitan SK dari Kementerian Sosial membuat pihak sekolah mencari solusi agar pendampingan siswa di asrama tetap berjalan.
Untuk mengatasi kekosongan tersebut, pengelola menugaskan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang telah masuk dalam usulan SK sebagai wali asuh dan wali asrama sementara.
Yogyantoro mengatakan, sekolah juga melibatkan tenaga pendukung, seperti petugas kebersihan dan juru masak, untuk membantu mendampingi para siswa sambil menunggu personel definitif mulai bertugas.
“Beberapa wali asuh dan wali asrama memang masih menanti SK dari Kementerian Sosial. Untuk sementara, kami memberdayakan kawan-kawan Tagana sambil menunggu PPPK definitif resmi bertugas,” ungkapnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelola masih terus menyempurnakan kebutuhan sumber daya manusia meski kegiatan belajar sudah berjalan.
Mayoritas Siswa Berasal dari Trenggalek
Data sekolah menunjukkan sekitar 94 persen peserta didik berasal dari Kabupaten Trenggalek. Sementara 6 persen lainnya berasal dari luar daerah dan kini sedang mengurus administrasi kependudukan agar memiliki domisili atau wali resmi di Trenggalek.
“Sebanyak 94 persen siswa berasal dari Kabupaten Trenggalek, sedangkan 6 persen sisanya masih menjalani transisi administrasi kependudukan,” jelas Yogyantoro.
Ia menambahkan, Kecamatan Panggul dan Gandusari menyumbang jumlah peserta didik terbanyak pada angkatan pertama.
Terapkan Sistem Berasrama 24 Jam
SRT 1 Trenggalek menerapkan sistem pendidikan yang berbeda dengan sekolah reguler. Pengelola memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan berbasis asrama.
Seluruh siswa akan tinggal di lingkungan sekolah selama 24 jam untuk mengikuti pembelajaran akademik, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler dengan pendampingan penuh dari wali asuh dan wali asrama.
“Kami memadukan kurikulum nasional dan kurikulum plus keasramaan. Anak-anak menetap 24 jam di Sekolah Rakyat dengan pendampingan penuh dari wali asuh dan wali asrama,” papar Yogyantoro.
Buka Pendaftaran Sepanjang Tahun
SRT 1 Trenggalek menerapkan sistem multi entry-multi exit, sehingga sekolah tidak membatasi penerimaan peserta didik hanya pada awal tahun ajaran.
Saat ini, sekolah mengelola satu rombongan belajar jenjang SMP dan dua rombongan belajar jenjang SD. Selain itu, sekolah juga telah mencatat 240 calon siswa baru yang siap mengikuti pembelajaran.
Yogyantoro menegaskan bahwa sekolah membuka kesempatan bagi anak-anak yang memenuhi persyaratan untuk mendaftar kapan saja selama tahun ajaran berlangsung.
“Kami membuka pendaftaran sepanjang tahun ajaran. Gedung sekolah ini sebenarnya berkapasitas lebih dari 1.000 siswa, dan kami akan menambah kuota murid secara bertahap,” pungkasnya.(CIA)
Views: 9
















