TRENGGALEK, bioztv.id – Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Trenggalek terus menekan angka pengangguran terbuka melalui berbagai terobosan strategis. Salah satu langkah konkret yang mereka lakukan ialah membekali masyarakat dengan keterampilan praktis agar siap memasuki dunia kerja maupun merintis usaha secara mandiri.
Disperinaker merealisasikan komitmen tersebut melalui pelatihan tata boga yang resmi dimulai pada Senin (29/6/2026). Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Dari 80 pendaftar, panitia hanya menetapkan 20 peserta yang lolos seleksi. Selama 14 hari, peserta akan mengikuti pelatihan intensif dengan total 140 jam pelajaran (JP).
Bekali Peserta dengan Kompetensi Industri Kuliner
Kepala Disperinaker Kabupaten Trenggalek, Christina Ambarwati, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik memasak. Para instruktur juga membekali peserta dengan standar kompetensi industri kuliner modern sekaligus manajemen kewirausahaan.
“Salah satu jurus ampuh kami untuk menurunkan tingkat pengangguran terbuka adalah dengan mendongkrak kompetensi masyarakat secara riil,” ujar Christina Ambarwati, Senin (29/6/2026).
Selama dua pekan, instruktur mengajarkan teknik pengolahan pangan yang baik, aman, higienis, serta memenuhi standar halal sesuai kurikulum tata boga nasional. Setelah menyelesaikan seluruh materi, peserta harus mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kami berharap pelatihan ini bisa menanamkan pengetahuan, mempertajam keterampilan, sekaligus menumbuhkan komitmen peserta untuk membuka usaha sendiri. Sertifikat BNSP itu juga bisa menjadi modal berharga saat mereka melamar pekerjaan,” terangnya.
Libatkan Dua Penyandang Disabilitas
Panitia merekrut peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari lulusan baru hingga masyarakat umum. Selain itu, Disperinaker juga memberikan kesempatan kepada dua penyandang disabilitas untuk mengikuti pelatihan bersama peserta lainnya.
Christina menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus menjalankan program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi utama menekan angka pengangguran melalui peningkatan kompetensi kerja.
Disperinaker Dampingi UMKM Naik Kelas
Selain mencetak tenaga terampil baru, Disperinaker juga memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dinas tersebut mendampingi pelaku usaha mulai dari pengurusan sertifikat halal, pendaftaran merek dagang ke HAKI, hingga pengujian laboratorium kandungan gizi produk agar produk lokal lebih mudah menembus pasar modern.
Terkait program tahun depan, Christina mengatakan pihaknya masih menyesuaikan rencana dengan kemampuan fiskal pemerintah daerah.
“Kebijakan fiskal hingga hari ini belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, kami masih menyusun perencanaan dengan mengacu pada estimasi anggaran tahun ini,” ungkapnya.
Peluang Kerja ke Jepang dan Korea
Selain menyelenggarakan pelatihan tata boga, Disperinaker juga membuka kelas bahasa Jepang dan bahasa Korea. Program tersebut menyasar masyarakat yang ingin bekerja maupun mengikuti program magang resmi di kedua negara.
Menurut Christina, penguasaan bahasa asing menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas peluang kerja internasional sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing di pasar global.
Peserta Ingin Kembangkan Produk Kuliner Sendiri
Salah seorang peserta, Siti Nurariyah (26), mengikuti pelatihan ini untuk mengembangkan usaha kuliner yang telah ia rintis sejak 2018. Warga Kecamatan Dongko itu selama ini menjual salad buah, cendol aren, coco pandan, hingga pancake secara berpindah-pindah di wilayah Dongko, Munjungan, dan Pule.
Ia mengaku promosi melalui media sosial, khususnya siaran langsung di TikTok, mampu meningkatkan penjualannya secara signifikan.
“Kekuatan media sosial itu luar biasa sekali. Saya aktif berjualan lewat TikTok. Pernah suatu kali jaringan internet mati total karena pemadaman listrik. Pembeli memang tetap datang ke lapak fisik, tetapi ramainya tidak se-ekstrem saat saya melakukan live streaming,” kenang Nurariyah.
Melalui pelatihan ini, Arisa—sapaan akrabnya—ingin menciptakan produk kuliner dengan resep racikannya sendiri sehingga usahanya tidak lagi bergantung pada produk pabrikan.
“Harapan terbesar saya usai lulus dari pelatihan ini adalah bisa memproduksi menu baru hasil olahan sendiri untuk saya jual secara mandiri. Saya ingin mandiri dan tidak perlu lagi mengambil produk dari pabrik besar,” pungkasnya optimistis.(CIA)
Views: 6

















