Selama Musim PMK Sapi Galekan Asli Trenggalek Tak Terjangkit, Tapi Kurang Diminati Peternak

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Di tengah gempuran sapi impor dan tren persilangan ternak modern, Kabupaten Trenggalek masih menyimpan kekayaan genetik lokal bernilai tinggi, yakni Sapi Galekan. Menariknya, sapi asli Trenggalek yang kini mulai langka itu mampu bertahan dari ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melumpuhkan sektor peternakan di berbagai daerah.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek saat ini memusatkan pengembangbiakan Sapi Galekan di kawasan UPTD Pengembangan Ternak milik Dinas Peternakan dan Perikanan di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan.

Pengelola Rumah Potong Hewan (RPH) sekaligus Juru Sembelih Halal (Juleha) Dinas Peternakan dan Perikanan Trenggalek, Suyitno, menegaskan bahwa Sapi Galekan merupakan aset plasma nutfah asli Trenggalek yang harus pemerintah lindungi agar tidak punah.

“Sapi Galekan ini merupakan plasma nutfah asli Trenggalek. Kami menjalankan program ini murni untuk melestarikan genetik sapi lokal khas daerah,” ujar Suyitno.

Saat ini, populasi Sapi Galekan di pusat pengembangbiakan masih tergolong minim, yakni sekitar 30 hingga 40 ekor. Jumlah itu jauh tertinggal dibanding populasi sapi persilangan modern seperti Limosin, Simental, dan Brahman yang mendominasi pasar karena memiliki pertumbuhan tubuh lebih cepat.

Suyitno menjelaskan, perbedaan paling mencolok antara Sapi Galekan dan sapi hasil kawin silang terletak pada ukuran tubuh dan kecepatan pertumbuhannya.

“Secara ekonomi, Sapi Galekan memang memiliki postur lebih kecil dan pertumbuhannya cenderung lambat. Karakter ini sangat berbeda dengan sapi hasil cross breeding yang cepat besar,” jelasnya.

Rata-rata bobot Sapi Galekan dewasa hanya berkisar 350 hingga 400 kilogram. Bahkan, peternak membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk menghasilkan sapi dengan bobot mencapai 500 kilogram.

“Sapi hasil cross breeding bisa mencapai bobot lebih dari 200 kilogram dalam setahun. Sedangkan Sapi Galekan mungkin hanya mampu mencapai separuhnya,” imbuhnya.

Sapi Galekan Lolos dari Serangan PMK

Meski kalah bersaing dari sisi produktivitas daging, Sapi Galekan memiliki sistem imun yang sangat kuat. Ketahanan itu terbukti saat wabah PMK menyerang berbagai daerah beberapa waktu lalu. Suyitno mengaku belum pernah menemukan kasus PMK pada Sapi Galekan di pusat pengembangbiakan tersebut.

“Saat wabah PMK mencapai puncaknya kemarin, kami tidak menemukan satu pun Sapi Galekan yang terinfeksi. Imunitas mereka memang sangat bagus,” ungkap Suyitno.

Untuk melindungi populasi yang tersisa, Suyitno kini memperketat pengawasan lalu lintas ternak yang masuk ke area RPH. Langkah ini sangat penting karena lokasi kandang pengembangan Sapi Galekan berada dalam satu kawasan dengan rumah potong hewan milik pemerintah daerah.

“Kalau petugas menemukan sapi dari luar yang menunjukkan gejala PMK masuk ke area RPH, kami langsung menghentikannya dan meminta pemilik memutar balik ternaknya,” tegasnya.

Andalkan Kawin Suntik untuk Tambah Populasi

Selain memperketat pengawasan, Dinas Peternakan juga terus meningkatkan populasi Sapi Galekan melalui teknologi Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik. Tim medis menggunakan sperma pejantan unggul Galekan yang telah dibekukan untuk menjaga kemurnian genetiknya.

Saat ini, sejumlah warga di wilayah pelosok Trenggalek seperti Kecamatan Panggul dan Munjungan juga masih memelihara Sapi Galekan secara tradisional.

Meski begitu, Suyitno mengingatkan bahwa budidaya Sapi Galekan membutuhkan kesabaran tinggi karena pertumbuhannya tidak secepat sapi ras modern.

“Membudidayakan Sapi Galekan memang membutuhkan ketelatenan ekstra. Karakter genetiknya sangat unik dan berbeda dengan sapi modern,” pungkasnya.(CIA)

Views: 8