TRENGGALEK, bioztv.id – Dinamika pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Trenggalek menunjukkan tren stabil selama dua tahun terakhir. Proyek berskala kecil masih mendominasi pasar, sehingga ratusan perusahaan lokal yang mayoritas berklasifikasi usaha kecil langsung menikmati dampaknya.
Kepala Bagian Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Setda Trenggalek, Suprihadi, menyebut ekosistem jasa konstruksi di Trenggalek berjalan sangat aktif. Saat ini, sekitar 200 badan usaha berbentuk CV dan PT berpartisipasi aktif dalam Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE).
“Kami mencatat sekitar 200 badan usaha jasa konstruksi terdaftar di SPSE. Setelah kami melakukan konfirmasi ke Dinas PUPR, jumlah perusahaan yang aktif secara perizinan memang mencapai 200 lebih sedikit,” ujar Suprihadi.
Proyek Skala Kecil Masih Mendominasi
Suprihadi menjelaskan bahwa karakter pengadaan di Trenggalek memang lebih berpihak pada usaha kecil. Pemerintah daerah menjalankan sebagian besar paket pekerjaan dengan nilai pagu di bawah Rp15 miliar.
“Mayoritas paket pengadaan di Trenggalek masih berklasifikasi usaha kecil karena nilai pekerjaan yang kami laksanakan berada di bawah batas tersebut,” jelasnya.
Ia juga meluruskan persepsi keliru mengenai klasifikasi usaha. Regulasi pengadaan tidak menentukan kategori usaha dari besaran modal, melainkan dari nilai paket proyek yang diikuti penyedia jasa.
“Batas usaha kecil berada di angka Rp15 miliar. Jika paket bernilai Rp14,9 miliar, usaha kecil masih bisa ikut. Namun ketika nilai proyek mencapai Rp15 miliar lebih satu rupiah saja, regulasi langsung mengategorikannya sebagai paket non-kecil,” tegas Suprihadi.
Persaingan Terbuka: Lokal dan Luar Daerah Setara
Meski sekitar 200 kontraktor lokal memenuhi pasar proyek, UKPBJ tetap membuka kompetisi secara adil. Suprihadi memastikan tidak ada praktik monopoli dalam proses tender.
Data pemenang tender menunjukkan komposisi yang relatif seimbang antara kontraktor lokal dan perusahaan dari luar daerah. Fakta ini menegaskan bahwa panitia menentukan pemenang murni berdasarkan kualitas dokumen dan kemampuan teknis.
“Semua penyedia memiliki peluang yang sama. Selama mereka memenuhi persyaratan administrasi dan teknis, panitia akan menilai secara objektif. Kontraktor lokal Trenggalek saat ini juga sangat kompetitif,” ujarnya.
Kontraktor Lokal Didorong Segera Naik Kelas
Dengan jumlah pelaku usaha yang besar, Suprihadi mendorong kontraktor lokal untuk tidak berhenti di proyek kecil. Ia mengingatkan bahwa klasifikasi usaha sangat bergantung pada perizinan dan kesiapan manajemen badan usaha.
Menurutnya, perusahaan lokal perlu memperkuat aspek legalitas, manajemen, dan kapasitas teknis agar mampu bersaing pada proyek bernilai lebih besar di masa depan.
“Kami berharap kontraktor lokal mulai menyiapkan diri. Ketika nanti tersedia paket bernilai lebih tinggi, mereka harus siap masuk ke segmen non-kecil dan bersaing di level yang lebih kompetitif,” pungkasnya.(CIA)
Views: 26
















