TRENGGALEK, bioztv.id – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, menyampaikan pesan mendalam kepada kaum perempuan Nahdliyin di Kabupaten Trenggalek. Ia menegaskan bahwa seorang ibu memegang peran paling menentukan dalam membentuk arah keagamaan dan ideologi anak sejak usia dini.
KH Zulfa menekankan bahwa keluarga menjadi ruang pendidikan pertama, dan ibu bertindak sebagai fondasi utama dalam menanamkan nilai keislaman. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat mengisi Kajian Rutin Lensa yang digelar oleh Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Trenggalek.
Dalam kesempatan itu, KH Zulfa menyatakan bahwa ibu berperan sebagai aktor kunci dalam menanamkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah (Aswaja NU) kepada anak-anak sejak dini.
“Ibu memegang peran yang sangat strategis dalam menanamkan Aswaja. Anak-anak pertama kali belajar nilai, sikap, dan keyakinan justru dari sosok ibu,” ujar KH Zulfa Mustofa di hadapan ribuan kader.
Literasi Aswaja Jawab Tantangan Abad Kedua NU
PC Fatayat NU Trenggalek tidak menjadikan Kajian Rutin Lensa sekadar agenda keagamaan rutin. Organisasi ini merancang forum tersebut sebagai ruang literasi perempuan Nahdliyin untuk menjaga sanad keilmuan sekaligus menjawab tantangan abad kedua Nahdlatul Ulama.
Dalam kajiannya, KH Zulfa mengingatkan para kader agar menyampaikan nilai-nilai Aswaja secara bertahap dan kontekstual di tengah masyarakat yang semakin heterogen.
“Gunakan bahasa sederhana tetapi tetap menyentuh substansi. Dengan cara itu, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menerima pesan Aswaja dengan baik,” jelasnya.
KH Zulfa juga membagikan pengalaman pribadinya kepada para peserta. Ia mengaku mengenal dan mencintai NU pertama kali melalui didikan sang ibu. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuktikan kuatnya peran keluarga dalam mentransformasikan nilai-nilai ke-NU-an secara efektif.
Fatayat NU Trenggalek Konsisten Perkuat Ideologi Kader
Ketua PC Fatayat NU Trenggalek, Ning Idamatul Khoiriyah, menyampaikan bahwa Kajian Rutin Lensa menjadi bagian dari langkah konsisten organisasi dalam memperkuat ideologi kader. Sekitar seribu kader Fatayat dari seluruh kecamatan di Kabupaten Trenggalek mengikuti kegiatan tersebut.
“Melalui program ini, kami berikhtiar menjaga dan memperkuat ideologi Aswaja, khususnya di kalangan perempuan muda NU. Kami ingin setiap kader memiliki bekal ideologis yang kuat dalam bermasyarakat dan berorganisasi,” ungkap Ning Idamatul Khoiriyah.
Ia berharap kehadiran tokoh nasional seperti KH Zulfa Mustofa mampu membangkitkan semangat kader perempuan untuk terus memperdalam akidah Aswaja dan mengamalkannya dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Perempuan di Garda Terdepan Penjaga Aswaja
Di tengah derasnya arus informasi digital dan berkembangnya beragam paham keagamaan baru, Fatayat NU Trenggalek menegaskan komitmennya untuk menempatkan perempuan—terutama para ibu muda—sebagai garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah.
Menutup kajiannya, KH Zulfa mendorong PC Fatayat NU Trenggalek agar terus menghidupkan diskusi di level akar rumput. Ia menilai forum kecil memberikan ruang pendalaman yang lebih aplikatif dibandingkan pertemuan berskala besar.
“Forum besar mampu membangkitkan semangat, tetapi forum-forum kecil akan menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam dan membumi,” pungkasnya. (CIA)
Views: 38

















