Minuman Manis Bisa Jadi “Senjata Senyap”, Kasus Diabetes Usia Muda di Trenggalek Melonjak

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Ancaman kesehatan serius kini mengintai warga Kabupaten Trenggalek. Gaya hidup tinggi gula melalui konsumsi minuman manis kemasan muncul sebagai “senjata senyap” yang mendorong lonjakan kasus diabetes melitus pada usia muda. Tidak sedikit warga usia produktif yang akhirnya harus menjalani prosedur cuci darah akibat komplikasi gula darah tinggi.

Fenomena ini menempatkan minuman manis pada tingkat bahaya yang setara dengan rokok. Jika rokok secara perlahan merusak paru-paru dan jantung, konsumsi gula berlebih secara diam-diam merusak organ dalam tanpa gejala awal yang jelas.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Trenggalek, dr. Sunarto, secara tegas mengingatkan risiko serius tersebut.

“Minuman manis dan rokok sama-sama berbahaya. Namun, konsumsi gula berlebih terbukti memicu diabetes melitus yang kini masuk jajaran penyebab kematian tertinggi di Indonesia,” tegas dr. Sunarto, Senin (5/1/2026).

Data Miris: 10.714 Warga Trenggalek Alami Diabetes, Mayoritas Perempuan

Berdasarkan data Diskesdalduk KB Trenggalek per 22 Desember 2025, petugas kesehatan mencatat sebanyak 10.714 warga menderita diabetes melitus. Penyakit ini tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi juga menjangkiti kelompok usia 15 tahun ke atas.

Data tersebut juga menunjukkan ketimpangan gender pada penderita diabetes di Trenggalek:

  • Perempuan: 64,16 persen
  • Laki-laki: 35,84 persen

Menurut dr. Sunarto, faktor genetik dan gaya hidup pasif menjadi pemicu dominan. “Kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, obesitas, serta tingginya tingkat stres kini banyak dialami warga usia produktif di Trenggalek,” jelasnya.

Konsumsi Gula Tinggi Mengancam Masa Depan Generasi Muda

Pemerintah daerah menilai perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama menjamurnya minuman manis kemasan, sebagai tantangan besar kesehatan publik. Jika masyarakat terus membiarkan konsumsi gula berlebih, risiko komplikasi serius seperti gagal ginjal, stroke, penyakit jantung, hingga amputasi anggota tubuh akan terus meningkat.

Untuk menekan laju kasus diabetes, Pemkab Trenggalek mengambil sejumlah langkah konkret, di antaranya:

  • Menggelar edukasi kesehatan secara masif ke sekolah-sekolah
  • Melakukan skrining gula darah berkala bagi pelajar
  • Menyediakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat usia produktif
  • Memberikan pendampingan rutin dan konseling bulanan bagi penderita diabetes

Rokok Masih Mengancam: Kasus PPOK dan Kanker Paru Tetap Tinggi

Di tengah ancaman gula, rokok tetap menjadi momok kesehatan. Sepanjang Januari hingga November 2025, fasilitas kesehatan mencatat 983 kasus baru Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) di Trenggalek.

Mayoritas kasus PPOK menyerang laki-laki (66,51 persen) dengan kelompok usia di atas 69 tahun. Sementara itu, tenaga medis mendeteksi 18 kasus kanker paru, yang justru sebagian besar menimpa perempuan usia 55–69 tahun.

“Rokok masih menjadi pemicu utama kanker paru, gangguan kesuburan, hingga komplikasi kehamilan,” ujar dr. Sunarto.

Langkah Tegas: Perluas Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Untuk menekan angka perokok remaja yang mencapai 6,03 persen atau sekitar 6.834 jiwa, Diskesdalduk KB Trenggalek terus menggencarkan Program Upaya Berhenti Merokok (UBM). Hingga akhir 2025, sebanyak 1.527 warga telah mengikuti program tersebut.

Selain itu, pemerintah daerah memperluas dan memperketat penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di fasilitas kesehatan, sekolah, tempat ibadah, hingga ruang publik.

“Pengendalian konsumsi gula dan rokok harus berjalan beriringan. Keduanya merupakan ancaman nyata bagi kesehatan dan masa depan generasi kita,” pungkas dr. Sunarto. (CIA)

Views: 22