TRENGGALEK, bioztv.id – Antusiasme masyarakat Trenggalek dalam membaca terus tumbuh. Data kunjungan perpustakaan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren kenaikan. Namun, ironi justru terjadi karena anggaran untuk mendukung literasi dan pengadaan buku malah terus menurun.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Trenggalek, Catur Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir pemerintah daerah hanya mengalokasikan Rp78 juta dari Dana Alokasi Umum (DAU). Pada 2024, Pemkab bahkan memangkasnya menjadi Rp65 juta.
“Untungnya kita masih terbantu dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pusat. Tahun 2024 kemarin dapat Rp750 juta, tahun 2025 juga sama, tapi tahun 2026 diproyeksikan turun jadi Rp600 juta,” jelas Catur saat bertemu wartawan.
Anggaran Minim, Koleksi Buku Jalan di Tempat
Catur menyebut, sebagian besar dana hanya cukup untuk kegiatan pembinaan dan kolaborasi. Sementara itu, Pemkab rata-rata hanya menyiapkan Rp20 juta per tahun untuk pengadaan koleksi buku baru. Menurutnya, jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat Trenggalek yang terus bertambah.
“Kalau untuk memperbanyak koleksi buku, anggaran kita tidak terlalu banyak. Dengan nominal itu, jelas masih kurang,” tegasnya.
Akibat keterbatasan itu, upaya meningkatkan kualitas literasi di Trenggalek berjalan di tempat. Padahal, literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis, memahami, hingga mengaitkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari.
Perpustakaan Keliling Jadi Andalan
Di tengah minimnya anggaran, layanan perpustakaan keliling menjadi ujung tombak penyedia bahan bacaan. Saat ini, Trenggalek memiliki tiga armada mobil perpustakaan, dua dari Perpusnas dan satu dari CSR Bank BTN. Petugas mengoperasikan armada tersebut rata-rata tiga kali dalam sepekan. Sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK) masih mendominasi permintaan layanan kunjungan perputanaan keliling.
“Masyarakat umum jarang sekali mengundang. Yang paling sering memang dari SD dan TK,” kata Catur.
Sekolah yang ingin memanfaatkan layanan harus mengirim surat permintaan lebih dulu. Setelah itu, petugas menjadwalkan kunjungan. Proses ini membuat banyak sekolah harus menunggu giliran.
“Pengajuan layanan kunjungan saat ini juga harus mengantri, karena lumayan banyak yang mengajukan,” imbuhnya.
Komitmen Pemerintah Dipertanyakan
Meski minat baca masyarakat meningkat, tanpa dukungan anggaran memadai geliat literasi di Trenggalek berisiko berjalan timpang. Pemkab mengklaim fokus pada strategi kolaborasi dengan sekolah dan desa untuk menutup celah keterbatasan.
Dengan kondisi anggaran daerah yang terus menyusut, publik wajar mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menempatkan literasi sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia di Trenggalek.
“Kami memanfaatkan anggaran yang ada untuk pembinaan. Dengan kolaborasi ini harapannya bisa menumbuhkan budaya baca di masyarakat,” pungkas Catur.(CIA)
Views: 61
















