Trenggalek Genjot Pertanian dengan Strategi Tancap14, Targetkan Produksi 2025 Naik Signifikan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Trenggalek terus berupaya meningkatkan produksi pertaniannya sebagai dukungan terhadap ketahanan pangan nasional. Dinas Pertanian dan Pangan menargetkan peningkatan indeks pertanaman (IP) dengan strategi percepatan tanam “Tancap 14”. Program ini mewajibkan petani menanam kembali setelah 14 hari panen.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah program “Tancap 14”. Program ini mengharuskan petani menanam kembali 14 hari setelah panen.

“Kita fokus pada percepatan tanam pasca-panen. Setelah panen, lahan langsung diolah menggunakan Alsintan (Alat Mesin Pertanian) untuk memastikan proses tanam berikutnya bisa dilakukan secara serentak,” ujar Imam, Rabu (26/2/2025).

Selain itu, Trenggalek juga menerapkan sistem pembibitan di luar lahan tanam, atau yang disebut sistem “culik”.

“Pembibitan dilakukan di pekarangan atau lahan non-produktif. Begitu lahan siap, bibit langsung dipindahkan ke sawah. Ini memastikan efisiensi waktu dan kualitas bibit,” tambahnya.

Target Peningkatan IP dan Produksi

Dengan luas lahan pertanian sekitar 12.000 hektare, Trenggalek menargetkan peningkatan IP dari 2 menjadi 2,5 atau bahkan 2,6.

“Kita tidak bisa menambah luas lahan, tapi kita bisa meningkatkan indeks pertanaman. Misalnya, dari satu kali tanam menjadi dua kali, atau dua kali menjadi tiga kali tanam dalam setahun,” jelas Imam.

Untuk mencapai target tersebut, penyediaan air menjadi kunci utama. ”

Kami memastikan ketersediaan air di setiap lahan, baik melalui irigasi tradisional maupun pemanfaatan mata air dan sungai setempat,” ujarnya.

Tahun 2024, produksi padi Trenggalek mencapai 138.000 ton. Untuk tahun 2025, Dinas Pertanian menargetkan peningkatan produksi hingga 160.000 ton.

“Target kami lebih tinggi dari yang ditetapkan pemerintah pusat. Kami yakin bisa mencapainya dengan strategi ini,” tegas Imam.

Fokus pada Lahan Datar dan Pegunungan

Trenggalek membagi strateginya berdasarkan kondisi geografis. Untuk lahan datar, seperti di Kecamatan Gandusari, Durenan, Munjungan, dan Panggul, penggunaan Alsintan berat seperti traktor roda empat dimaksimalkan.

“Lahan datar menjadi prioritas karena alat berat bisa beroperasi dengan optimal di sana,” kata Imam.

Sementara itu, untuk lahan terasering di daerah pegunungan, fokusnya adalah penyediaan air. “Kami memanfaatkan mata air dan sungai setempat untuk memastikan ketersediaan air di lahan-lahan terasering,” imbuhnya.

Dukungan untuk Petani

Imam menegaskan bahwa Dinas Pertanian juga mempertimbangkan preferensi petani dalam pemilihan varietas padi.

“Masyarakat punya varietas unggulan sendiri. Kami tidak memaksakan, tapi membina apa yang sudah dibudidayakan petani,” ujarnya.

Selain itu, pelatihan dan pendampingan terus diberikan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas. Dengan strategi ini, Trenggalek berharap dapat menjadi salah satu kabupaten penyangga pangan nasional. Upaya ini juga sejalan dengan visi pemerintah pusat untuk mencapai swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor

“Kami ingin petani Trenggalek tidak hanya mandiri, tapi juga menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal ketahanan pangan,” pungkas Imam.(CIA)

Views: 2