TRENGGALEK, bioztv.id – Produktifitas biji kakao masih rendah, rumah cokelat yang ada di Kabupaten Trenggalek belum mampu jalin MoU dengan perusahaan eksportir. Untuk penjualan biji kakai, saat ini rumah cokelat hanya bisa menjual ke salah satu eksportir apabila ada stok dan ada permintaan saja. Sisanya diolah sendiri di rumah cokelat.
Menurut keterangan operator pengelola rumah cokelat Trenggalek, jenis biji kakao yang bisa untuk diekspor harus memenuhi kriteria tertentu. Antara lain, biji kakao harus dalam bentuk fermentasi dengan kadar air sekitar 7 persen. Selain itu, biji kakao juga harus masuk dalam kategori grade A. Sedangkan biji kakao dengan grade b biasanya diolah sendiri rumah coklat menjadi berbagai macam produk. Seperti permen, bubuk, hingga minuman cokelat. Grade biji cokelat tersebut ditentukan dari ukuran. Untuk grade A ukuran setiap 1 ons berisi 90 sampai 100 biji. Sedangkan grade B, setiap 1 ons berisi antara 100 sampai 120 biji
Lebih lanjut operator pengelola rumah cokelat Trenggalek, Helen Kurniawan menyampaikan, Permintaan biji kakao untuk dikirim ke luar negeri cukup besar. Bahkan, ketersediaan stok biji kakao di Trenggalek tak cukup untuk memenuhi permintaan itu. Dalam setahun, pihak rumah coklat hanya bisa menyetor biji kakao asal ke perusahaan untuk dikirim ke luar negeri berkisar 1,5 ton. Sehingga belum bisa menjalin MoU Ekspor dengan eksportir.
Helen juga menambahkan, produktifotas biji kakao yang dihasilkan petani binaan rumah coklat Trenggalek berkisar 2,5 ton per tahun. Dengan rincian, sekitar 1,5 ton Grade A dan 1 ton merupakan grade b yang tidak bisa diekspor. Sementara itu selama pandmei Covid-19 ini produktifitas pengolahan biji kakao di rumah cokelat Trenggalek juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Views: 77
















