TRENGGALEK, bioztv.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek sepanjang musim kemarau tidak hanya merusak ekosistem dan menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga merenggut nyawa. Dua warga lanjut usia meninggal dunia setelah terjebak kobaran api saat beraktivitas di lahan kering di Kecamatan Durenan dan Panggul.
Kedua peristiwa tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan Perum Perhutani mengingatkan masyarakat agar menghentikan kebiasaan membakar sampah dan serasah sembarangan. Api dari pembakaran terbuka berpotensi merembet ketika vegetasi mengering selama musim kemarau.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek sekaligus Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menyoroti bahaya pembakaran sampah di area terbuka saat kondisi vegetasi mengering.
“Kalau beberapa minggu yang lalu di Panggul, itu ada warga yang membakar sampah dan satu orang meninggal,” kata Triadi saat diwawancarai.
Kronologi Dua Warga Lanjut Usia Tewas Terjebak Api
Tragedi pertama menimpa Dulmungit (83), warga Desa Gador, Kecamatan Durenan. Kebakaran hebat melanda tegalan tempat korban menanam kopi pada September 2026. Korban semula berusaha menyelamatkan tanaman kopi miliknya, tetapi tidak kunjung kembali. Warga kemudian menemukan korban meninggal dunia di tengah lahan yang hangus terbakar.
Peristiwa kedua menimpa Tukiyah (73), warga Desa Sawahan, Kecamatan Panggul, pada Senin (12/10/2026). Korban berangkat ke kebun cengkeh sekitar pukul 07.00 WIB untuk membersihkan serasah daun kering.
Warga kemudian bergotong royong memadamkan api yang melalap kawasan Hutan Pemajekan. Setelah upaya pemadaman berlangsung, warga menemukan Tukiyah meninggal dunia di lokasi kebakaran.
Pemeriksaan medis awal kepolisian terhadap kedua jenazah tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan. Kedua korban diduga meninggal akibat terjebak asap tebal dan kobaran api yang menyebabkan asfiksia atau gangguan pernapasan akibat kekurangan oksigen.
Karhutla Melanda 128,55 Hektare
Data Perum Perhutani KPH Kediri Selatan menunjukkan luas kebakaran hutan di Trenggalek mencapai 128,55 hektare hingga pertengahan Oktober 2026. Perhutani mencatat 47 kejadian kebakaran dengan estimasi kerugian materiil mencapai Rp439,8 juta.
Wakil Administratur/KS KPH Kediri Selatan, Budi Prihartono, menjelaskan bahwa kebakaran banyak melanda kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman pinus. Kandungan getah pada tanaman tersebut membuatnya mudah terbakar.
“Dari 47 kejadian itu, 31 kejadian di antaranya didominasi oleh tanaman pinus,” ungkap Budi.
Budi menduga kelalaian manusia (human error) menjadi salah satu pemicu utama kebakaran. Api diduga berasal dari pembakaran serasah di lahan milik warga yang tidak terpantau hingga merembet ke kawasan hutan negara.
“Selain itu, puntung rokok yang dibuang sembarangan dan pembakaran limbah pertanian juga berpotensi memicu kebakaran,” jelas Budi.
BPBD Trenggalek mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Kedua instansi meminta warga menghindari penggunaan api saat membersihkan lahan dan memastikan tidak ada sumber api yang berpotensi memicu kebakaran.(CIA)
Views: 10

















