TRENGGALEK, bioztv.id — Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi suspend operasional selama 30 hari kepada SPPG Karangan di bawah naungan Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.
BGN mulai menjalankan sanksi tersebut sejak Rabu (16/9/2026). Keputusan itu muncul setelah 77 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) melaporkan diare dan sakit perut.
Puluhan siswa dan guru dari MA Global serta SMP Global, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, mengalami keluhan kesehatan tersebut.
Hingga kini, pihak berwenang masih memeriksa kemungkinan hubungan keluhan kesehatan itu dengan konsumsi menu MBG.
SPPG Wajib Membenahi Manajemen dan SOP
Wakil Ketua Satgas MBG Kabupaten Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan pengelola SPPG harus melakukan perbaikan selama masa suspend.
Pengelola harus membenahi Standar Operasional Prosedur (SOP), memperketat proses kerja dapur, serta meningkatkan pengelolaan layanan penyajian makanan.
“Selama masa suspend, kami mewajibkan pihak SPPG membenahi seluruh alur SOP operasional mereka,” ujar Sunarto, Kamis (17/9/2026).
Sunarto mengatakan perbaikan tidak hanya menyasar tata kerja di dapur. SPPG Karangan juga harus memperbarui sarana dan prasarana fisik serta menata kembali struktur manajemen pelayanan.
“Perbaikan wajib menyangkut peningkatan kualitas SPPG secara utuh, mulai dari pembenahan sarana prasarana hingga penataan ulang manajemen kerja,” tegasnya.
Sanksi Berlaku 30 Hari
BGN menetapkan masa suspend selama 30 hari. Selama periode tersebut, pengelola harus menyelesaikan persyaratan perbaikan sebelum kembali melayani program MBG.
Setelah menyelesaikan pembenahan, pengelola SPPG dapat mengajukan permohonan pencabutan sanksi kepada BGN.
Selanjutnya, tim evaluator akan memeriksa kesiapan SPPG sebelum BGN memulihkan izin operasionalnya.
Masa suspend ini memberi kesempatan kepada Yayasan Mulia Hiroku Gakkou untuk mengevaluasi fasilitas, sanitasi, dan proses pengelolaan SPPG Karangan.
77 Siswa dan Guru Mengeluh Sakit Perut
Kasus ini mencuat setelah Satgas menerima laporan pada Selasa (15/9/2026). Sebanyak 77 penerima manfaat MBG melaporkan gangguan kesehatan.
MA Global mencatat 34 penerima yang mengalami keluhan. Jumlah itu terdiri atas 27 siswa dan tujuh guru.
SMP Global mencatat 43 penerima dengan keluhan serupa. Rinciannya 41 siswa dan dua guru.
Para penerima manfaat mengeluhkan diare dan mulas pada bagian perut. Namun, Satgas MBG masih memeriksa kondisi tersebut.
“Kami menerima laporan resmi pada Selasa pagi mengenai adanya puluhan penerima manfaat di SMP dan MA Global yang mendadak jatuh sakit,” terang Sunarto.
Satgas Telusuri Kondisi Lebih dari 1.000 Penerima
Menindaklanjuti laporan tersebut, Satgas MBG Trenggalek membentuk tim gabungan bersama Korwil Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas setempat.
Tim medis tidak hanya menangani 77 penerima yang mengeluh sakit. Petugas juga menelusuri kondisi lebih dari 1.000 penerima manfaat lain di wilayah distribusi SPPG Karangan.
Petugas menelusuri kondisi penerima lain untuk mengetahui apakah mereka mengalami keluhan serupa.
“Hasil penyisiran tim di lapangan menunjukkan gejala sakit perut ini terkonsentrasi pada 77 orang tersebut,” kata Sunarto.
Tim Periksa Seluruh Proses Produksi SPPG
Selain memeriksa kondisi penerima manfaat, Satgas MBG memeriksa dapur SPPG Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.
Tim memeriksa seluruh tahapan produksi makanan. Pemeriksaan mencakup penerimaan bahan baku, proses pengolahan, pemorsian, hingga distribusi makanan ke sekolah sasaran.
Sunarto mengatakan tim menggunakan metode audit untuk memeriksa setiap tahapan penyediaan makanan.
“Untuk menuntaskan kasus seperti ini, tim kami bekerja menggunakan metode audit ketat di setiap tahapan penyediaan pakan,” jelas Sunarto.
Sampel Makanan Dikirim ke Laboratorium Surabaya
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, Satgas MBG mengambil sampel sisa makanan dan mengirimkannya ke laboratorium rujukan di Surabaya.
Laboratorium tersebut memiliki fasilitas analisis mikrobiologi yang lebih lengkap.
“Kami mengambil sampel makanan dan langsung mengirimkannya ke laboratorium Surabaya yang fasilitas ujinya sangat lengkap,” urai Sunarto.
Laboratorium Pemkab Trenggalek juga dapat memeriksa sejumlah parameter, termasuk bakteri Escherichia coli atau E. coli.
Sementara itu, Satgas mengirim sampel ke Surabaya untuk menjalani pemeriksaan dengan parameter yang lebih lengkap.
Keluhan Kesehatan Masih Dalam Pemeriksaan
Satgas mencatat menu MBG pada Senin (14/9/2026) terdiri atas nasi, ayam bumbu rendang tanpa santan, tumis acar timun wortel, tempe goreng, dan potongan buah melon.
Sehari setelah mengonsumsi menu tersebut, sejumlah siswa dan guru melaporkan gangguan pencernaan.
Namun, Satgas MBG belum menyatakan adanya hubungan langsung antara menu tersebut dengan keluhan kesehatan yang muncul.
“Dugaan awal memang mengarah pada proses pengolahan menu MBG hari sebelumnya,” sebut Sunarto.
Satgas MBG masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Surabaya. Tim akan menggunakan hasil pemeriksaan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya. (CIA)
Views: 13
















