Shrimp Army Kuliti Pernyataan Admin Askab PSSI Trenggalek, Polemik Pembajakan Data Memanas

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idPolemik pengelolaan data pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) antara Askab PSSI Trenggalek dan Shrimp Army Football Academy semakin memanas. Meski Admin Askab mengakui keteledorannya mengubah data internal klub secara sepihak, pembelaan lanjutan dari Askab justru memicu reaksi yang lebih keras dari manajemen sekolah sepak bola asal Kecamatan Watulimo tersebut.

Pemilik Shrimp Army Football Academy, Anjar Priadi Putra, menilai rentetan dalih yang disampaikan Wakil Sekretaris sekaligus Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, masih menyisakan banyak kejanggalan. Menurut Anjar, persoalan ini bukan lagi soal memaafkan kesalahan, melainkan menyangkut tindakan pihak luar yang mengubah administrasi pemain tanpa izin tertulis dari pemilik klub.

Soroti Klaim Askab Soal Kemampuan Pengurus SSB

Anjar mengkritik keras pernyataan Askab yang menyebut sebagian besar pengurus SSB di Trenggalek belum mampu mengoperasikan aplikasi SIAP secara mandiri pada masa awal penerapannya.

“Saya sudah mencermati video pengakuan dan beberapa pemberitaan di media. Askab melempar klaim bahwa mereka terpaksa mengambil alih akun karena menganggap pengurus SSB belum mampu mengelola aplikasi SIAP. Pertanyaan mendasar saya, Askab memasukkan nama kami ke kelompok yang mampu atau tidak mampu?” cecar Anjar Priadi Putra.

Anjar mengaku heran dengan logika yang digunakan pengurus Askab. Dalam pernyataan sebelumnya, Askab justru mengakui Shrimp Army sebagai salah satu dari tiga klub pelopor yang mampu mengoperasikan sistem SIAP secara mandiri.

“Jika Askab sendiri sudah mengelompokkan kami sebagai tim yang mampu, mengapa Admin Askab tetap nekat menguasai akun SIAP kami? Sebaliknya, kalau mereka menganggap kami tidak mampu, apa indikator dan dasar penilaiannya?” tukasnya.

Pertanyakan Dasar Askab Mengambil Alih Akun Klub

Anjar juga mempertanyakan dasar Askab ketika menyimpulkan pengurus SSB belum mampu mengelola administrasi digital. Ia menegaskan, pengurus Askab tidak pernah menggelar evaluasi, audiensi, maupun pendampingan teknis sebelum mengambil alih hak akses akun klub.

“Apa hak mereka menjustifikasi bahwa kami tidak mampu mengelola aset digital sendiri? Apakah pengurus pernah menggelar audiensi tatap muka? Apakah mereka pernah mengadakan sosialisasi awal? Sama sekali tidak pernah!” sergah Anjar.

Ia juga membantah alasan Askab yang mengaitkan persoalan tersebut dengan agenda sosialisasi aplikasi SIAP.

Menurut Anjar, Askab baru menggelar sosialisasi pada 16 Juni 2026, sedangkan Shrimp Army sudah membangun dan mengelola database pemain sejak 2023.

“Kami sudah menata rapi data pemain sejak tahun 2023. Jadi sangat menggelikan jika Askab menjadikan sosialisasi tahun 2026 sebagai pembenaran mengapa mereka menguasai akun kami selama bertahun-tahun,” katanya.

Soroti Perubahan Data Pemain Tanpa Persetujuan Klub

Anjar kembali menegaskan bahwa inti persoalan terletak pada perubahan status pemain tanpa persetujuan manajemen Shrimp Army. Akibat tindakan tersebut, sejumlah pemain inti tiba-tiba hilang dari database klub di aplikasi SIAP.

“Seseorang mengubah data pemain kami di tengah jalan secara misterius. Sistem mencabut status keanggotaan sebagian pemain kami tanpa pemberitahuan, apalagi restu dari kami. Kami tidak pernah menandatangani surat persetujuan apa pun terkait perpindahan tersebut,” tegasnya.

Ia meminta jajaran Askab PSSI Trenggalek menjawab persoalan itu secara terbuka tanpa terus membangun alasan baru.

“Jika memang oknum Anda berbuat salah, akui saja di depan publik bahwa tindakan itu keliru. Setelah itu mari kita duduk bersama untuk membenahi tatanan yang rusak ini demi menyelamatkan masa depan pembinaan sepak bola Trenggalek,” ujarnya.

Kritik Mekanisme Undangan Sosialisasi Askab

Selain mengkritik persoalan aplikasi SIAP, Anjar juga menyoroti cara sekretariat Askab menyebarkan undangan sosialisasi yang menurutnya sangat mendadak.

Ia menjelaskan, manajemen baru menerima undangan elektronik pada 15 Juni 2026 pukul 17.33 WIB, sedangkan Askab menjadwalkan kegiatan itu keesokan paginya.

“Pengurus baru mengirim surat undangan sekitar 18 jam sebelum acara dimulai. Kami mengelola klub secara swadaya. Kami juga memiliki pekerjaan dan aktivitas lain. Askab juga harus memahami jarak Watulimo menuju Kota Trenggalek tidak dekat,” sindirnya.

Karena itu, ia meminta Askab tidak menjadikan ketidakhadiran beberapa pengurus SSB sebagai alasan untuk menilai klub-klub di daerah tidak mendukung program pembinaan.

Maaf Pribadi Tidak Menghapus Kerugian Organisasi

Anjar mengaku menerima permohonan maaf Bima Wahyu Romadoni sebagai bentuk hubungan antarmanusia. Namun, ia menilai persoalan organisasi belum selesai.

“Sebagai sesama manusia, saya pribadi memaafkan kekhilafan Saudara Bima. Namun secara kelembagaan organisasi, sengketa ini belum selesai sama sekali. Kerugian materiil maupun immateriil akibat blunder ini tidak hanya menimpa diri saya seorang,” katanya.

Menurut Anjar, perubahan data pemain tersebut ikut memukul mental pelatih, merugikan pengurus, dan mengecewakan para orang tua yang selama ini mendukung pembinaan anak-anak mereka.

“Kami membangun tim ini dari nol, membina bakat anak-anak dengan kerja keras. Tiba-tiba ada pihak luar yang menghapus data pemain demi keuntungan tim lain. Tindakan itu merusak reputasi sekaligus merugikan investasi organisasi kami,” ujarnya.

Minta Askab Fokus Membina, Bukan Mengatur Mutasi Pemain

Menutup pernyataannya, Anjar berharap polemik ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi Askab PSSI Trenggalek. Ia menegaskan bahwa Askab seharusnya berperan sebagai pembina dan pelindung klub, bukan ikut mencampuri urusan internal administrasi pemain.

“Perpindahan atau mutasi pemain antar-SSB merupakan hal yang lumrah dalam sepak bola modern. Namun Askab seharusnya mengedukasi klub mengenai mekanisme transfer yang benar, bukan memfasilitasi perpindahan data tanpa koordinasi dengan klub asal,” tegasnya.

Manajemen Shrimp Army juga mendesak Askab segera membenahi tata kelola administrasi agar kompetisi usia dini di Trenggalek kembali bergairah.

“Harapan kami sederhana. Kami ingin pembinaan sepak bola Trenggalek berjalan di jalur yang jujur dan sehat. Dengan begitu jumlah peserta kompetisi resmi akan meningkat, tidak lagi hanya diikuti lima tim U-15 dan delapan tim U-13 seperti sekarang,” pungkas Anjar.(CIA)

Views: 23