TRENGGALEK, bioztv.id – Harum aroma santan mulai menguar dari sudut-sudut dapur warga saat pagi Lebaran menjelang. Di atas meja, warga menyusun ketupat rapi dalam kesederhanaannya. Namun, di balik anyaman janur yang diam itu, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan manusia, pengakuan kesalahan, dan harapan untuk kembali suci.
Sebagian orang mungkin menganggap ketupat hanya pelengkap opor atau lodho. Namun bagi masyarakat Jawa, hidangan ini menjadi simbol batin yang mendalam. Setiap helai janur yang saling mengunci tidak sekadar membungkus nasi, melainkan mencerminkan lika-liku kehidupan manusia.
Warisan Dakwah Sunan Kalijaga
Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi ketupat mulai populer sejak masa Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16. Tokoh Wali Songo ini memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah yang cerdas dengan memadukan budaya lokal Jawa dan nilai-nilai Islam agar masyarakat lebih mudah menerima ajaran agama.
Artinya, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ini adalah simbol budaya yang sarat makna spiritual dan sosial.
“Ngaku Lepat”: Keberanian Mengakui Kesalahan
Dalam filosofi Jawa, masyarakat memaknai kata “kupat” sebagai akronim ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Momentum Lebaran membuka ruang bagi setiap orang untuk saling memaafkan tanpa memandang status sosial.
Ketupat juga membawa pesan tentang “Laku Papat” atau empat tindakan utama dalam hidup manusia:
- Lebaran: menandai selesainya ibadah Ramadan.
- Luberan: mengajak berbagi rezeki melalui sedekah.
- Leburan: melebur dosa melalui pintu maaf.
- Laburan: menjaga hati tetap putih dan bersih.
Empat filosofi ini mengingatkan kita agar tidak berhenti pada ritual saja, tetapi terus memperbaiki diri.
Anyaman Janur: Cerminan Lika-Liku Kehidupan
Kerumitan anyaman ketupat melambangkan kesalahan manusia yang sering berlapis dan saling silang. Namun, saat kita membelah ketupat, kita melihat nasi putih bersih yang padat di dalamnya. Proses ini menyimbolkan bahwa setelah melewati perjalanan panjang seperti puasa Ramadan, manusia bisa kembali menemukan kesuciannya.
Masyarakat juga memilih janur kuning dengan alasan filosofis. Dalam falsafah Jawa, janur merupakan singkatan dari sejatining nur atau cahaya sejati. Warna kuningnya melambangkan kejernihan hati.
Meski lentur, janur itu kuat. Kondisi ini mlelambangkan jika manusia ideal harus tegar menghadapi cobaan, namun tetap memiliki hati lembut yang mudah memaafkan.
Empat Penjuru Menuju Satu Tujuan
Bentuk segi empat pada ketupat merepresentasikan konsep kiblat papat lima pancer. Konsep ini menggambarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, ia akan kembali ke satu pusat, yakni Sang Pencipta.
Bentuk ini juga mencerminkan upaya manusia mengendalikan empat nafsu dasar: amarah, aluamah (serakah), supiah (duniawi), dan mutmainah (tenang). Manusia melatih pengendalian ini melalui ibadah puasa.
Dari Simbol Menuju Realitas Sosial
Masyarakat juga memberi makna pada sajian pendamping ketupat. Kuah santan melambangkan ungkapan kulo lepat nyuwun ngapunten (saya salah, mohon maaf). Sementara itu, lepet yang sering hadir sebagai pendamping bermakna silep kang rapet, yaitu menutup rapat kesalahan yang telah dimaafkan agar tidak diungkit kembali.
Tradisi ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Anyaman ketupat yang saling terhubung kuat menjadi simbol pentingnya menjaga silaturahmi.
Kembali ke Titik Nol
Pada akhirnya, Lebaran bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi perjalanan pulang menuju titik nol—menjadi pribadi yang lebih sabar dan rendah hati.
Sama seperti kita membuka ketupat lapis demi lapis sebelum menikmatinya, manusia juga perlu membuka lapisan ego untuk menerima kebaikan orang lain.
Ketupat mengajarkan satu hal sederhana: meski hidup rumit, tapi selalu ada jalan menuju kesucian.
Di tengah meja makan yang penuh hidangan, ketupat tetap hadir sebagai pengingat sunyi—bahwa di balik rasa gurih, tersimpan makna abadi yang tak lekang oleh waktu.(CIA)
Views: 14
















